Renungan Sabtu, 09 September 2017; Minggu Biasa XXII, Lukas 6:1-5

Posted on Posted in Uncategorized

Dasarnya adalah kasih

                Bagi sekelompok orang peraturan seringkali disebut sebagai sebuah “tali” yang mengikat. Oleh karena kuatnya ikatan tersebut dengan sesuatu hal, maka kebebasan seringkali tidak ditemukan didalamnya. Bahkan setiap orang ditutuntut untuk patuh pada hal-hal yang telah diikat tersebut. Hal inilah yang dapat kita temukan dalam diri orang-orang Farisi pada hari ini. Sebaliknya ada orang yang melihat peraturan adalah buatan tangan manusia sendiri atau dengan kata lain bukan aturanlah yang membuat manusia. Dengan demikan orang-orang seperti ini akan melihat aturan sebagai sebuah cara atau jalan, dimana seseorang dapat menjalankan hidupnya dengan lebih terarah. Selain itu, karena peraturan itu dibuat oleh manusia dan bukan aturan yang membuat manusia, maka manusia bisa mengubahnya, sesuai dengan kebutuhan yang menuntutnya. Hal inilah yang kita temukan dalam pribadi Yesus.

                Hari ini Injil mengisahkan kepada kita tentang kegusaran orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, karena murid-murid Yesus memetik bulir-bulir gandum, menggisarnya dengan tangan dan memakannya. Suatu hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, karena hal ini dilarang dalam peraturan agama Yahudi. Orang-orang Farisi gusar karena mereka adalah orang-orang yang teguh memelihara peraturan teresebut dari generasi ke generasi, dan kini melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan para murid Yesus. Mungkin saja mereka berkata dalam hati kenapa Yesus yang dikatakan sebagai pemenuh hukum Taurat ini mengajarkan hal yang salah? Bukankah ia sebagai pemenuh hukum tersebut, ia harus menjalankan hukum dengan baik? Inilah kesempatan yang baik bagi mereka untuk mempersalahkan Yesus, dan menjebaknya bahwa ia telah mengajarkan sesuatu yang salah kepada para murid-Nya.

Orang-orang Farisi mempersalahkan Yesus dan menyangka bahwa Yesus akan benar-benar tersisihkan karena mengajarkan yang salah. Namun, bukanlah demikian dengan pribadi Yesus. Yesus menanggapinya dengan akal sehat dan hati yang tenang. Yesus menjawab pernyataan kaum Farisi dengan merujuk pada pribadi Daud, dimana dalam zamannya ketika Daud dan para pengikutnya lapar, mengabil makanan yag hanya dikhususkan bagi para imam dan mereka memakannya. Menarik bahwa Yesu merujuk pada pribadi Daud, dan kita tahu bahwa Yesus sendiri berasal dari garis keturunan Daud tersebut. Tahkta Daud diberikan kepada-Nya (Lukas 1:32). Yesus melakukan perbuatan demikian karena ia melihat ada sesuatu yang lebih penting dari pada sekedar melakukan dan menjalankan aturan. Bagainya, Anak manusia adalah Tuhan atas hari sabat. Dalam arti yang lebih sederhana Ia sendiri adalah Tuhan atas hari sabat, Ia yang berkuasa atas hari sabat (bdk. Salah satu gelar Yesus sebagai Anak Daud). Dengan mengatakan hal demikian, sebanrnya Yesus mau mengatakan bahwa manusia yang membuat aturan hari sabat, tetapi Saya (Yesus) yang lebih berkuasa atas semua manusia di atas bumi ini yang telah menciptakan hari sabat tersebut. Jadi, Yesus bisa melunakkan aturan-aturan yang ada di dalamnya.

Melihat misi Yesus di tengah dunia yang berlandaskan pada kasih sebagai titik tolak pelayanannya, sebenarnya Yesus mau menekankan satu hal dari tindakannya di atas. Baginya, yang lebih penting adalah kasih dan bukan kurban persembahan. Itulah yang dikehendaki oleh Yesus. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Yesus sampai melunakkan beberapa aturan yang sebenarnya harus dipatuhi secara teguh. Hal inilah yang harus diikuti oleh setiap pengikutnya.

Bagi kita zaman sekarang, sebagain dari kita seringkali menjadi “Farisi” baru yang teguh pada peraturan sampai melupakan aspek lain yang lebih penting daripada itu, yakni kasih. Aturan yang ketat terhadap hukum seringkali membuat kita harus mengorbankan sesame kita yang sebenarnya memaklunkan suatu kebenaran dalam kehidupan ini. Semoga pesan Yesus hari ini menyadarkan kita, bahwa dalam berbuat sesuatu, kita hendaknya selalu mengenakan belaskasihan sebagai dasar utama. Sebagai murid Yesus, kita harus belajar dari Paulus yang memandang belaskasih Yesus Kristus sebagai dasar panggilannya sebagai pewartaannya. Tuhan memberkati.