Renungan Sabtu, 12 Agustus 2017

Posted on Posted in Uncategorized

Renungan Sabtu, 12 Agustus 2017

Minggu Biasa XVIII, Matius 17:14-20

Iman yang memberi hidup

            Sebagai seorang yang beriman Katolik, ada satu pertanyaan yang harus selalu kita renungkan dalam perjalanan kerohanian kita. Pertanyaan tersebut yakni sudah seberapa besarkah iman kita kepada Yesus yang kita yakni sebagai satu-satunya sumber dan tujuan hidup kita? Problem yang seringkali melanda kehidupan kita sebagai seorang pengikut Yesus adalah kurangnya iman yang teguh kepada Yesus. Hal ini sangat berdampak ketika kita mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dalam hidup ini, kita seringkali cepat putus asa dan merasa diri bahwa kita adalah orang yang sangat tidak beruntung bahkan tidak berarti apa-apa. Dampak yang terjadi bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga untuk sesama. Hubungan dengan sesama menjadi kurang harmonis. Di sinilah, setiap pengikut Yesus perlu memperbaharui imannya, dalam seluruh situasi kehidupan ini.

            Kisah Yesus menyembuhkan seorang pemuda yang sakit ayan hari ini, selain mau menunjukkan kuasa kasih Yesus kepada orang yang menderita, tetapi juga mau menujukkan bagaiman kita harus beriman secara benar kepada Allah. Dalam kaitan dengan iman, ada dua hal yang dapat kita petik dari pesan injil hari ini. Pertama, bahwa iman yang kita hayati secara benar dapat membantu diri sendiri dan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan sangat jelas oleh sang ayah dari anak muda yang sakit ayan tersebut. Melalui kepercayaan sanga ayah akan kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan, maka ia datang kepada Yesus dan meminta Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Bayangkan saja seandainya sang ayah tidak menaruh kepercayaan kepada Yesus, pastilah ia tidak mau menyibukkan diri untuk mengantarkan anaknya kepada Yesus. Bahkan ia datang sambil menyembah di hadapan Yesus. Sebuah gambaran kerendahan hati dan kepercayaan total pada kehendak Yesus sendiri. Hasilnya sangat mengagumkan anaknya memperoleh kesembuhan. Sekali lagi iman kita yang kuat kepada Yesus dapat membantu sesama kita yang tidak berdaya. Iman yang kuat dapat memapukan kita untuk tetap hidup.

            Gambaran iman yang menyelamatkan sesama ini juga dapat ditemukan dalam diri para kudus, misalnya dalam diri Santa Theresia Lisieux, seorang suster Karmel dari Lisieux-Prancis. Imannya yang kuat kepada Yesus telah menyelamatkan seorang penjahat (Pranzini) untuk bertobat dan kembali memeluk imannya kepada Yesus. Dengan sangat indah hal ini ditunjukkan ketika di akhir hidupnya, pada saat akan menjalani hukuman mati, Pranzini meraih sebuah salib yang dipegang oleh seorang pastor di sampingnya dan menciumnya. Semua ini terjadi karena Theresia telah berdoa baginya siang dan malam demi pertobatannya. Theresia yakin bahwa doanya akan mengubah hidup Pranzini bahkan pada saat-saat hidupnya sekalipun. Dan hal itu sungguh terjadi. Pranzini bertobat. Misi Theresia untuk menyelamatkan jiwa-jiwa terlaksana dengan baik, meskipun harus melalui usaha yang sangat panjang.

            Kedua, berdasarkan kisah Injil hari ini, sebenarnya Yesus menujukkan salah satu jalan yang amat penting bagi perkembangan iman kita. Jalan tersebut adalah dengan terus menerus berhubungan dengannya dalam doa dan kurban. Dalam Injil, terlihat jelas salah satu pernyataan Yesus kepada para murid: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (ayat 21). Kalau dilihat dalam arti yang lurus, dapat dikatakan bahwa para murid belum memiliki kehidupan doa yang mendalam dan iman yang masih dangkal, karena mereka belum bisa atau belum berani untuk mengusir setan yang ada dalam diri sang pemuda yang sakit. Inilah kiranya hal yang juga seringkali dialami oleh kita manusia zaman ini yakni kurang bertumbuh dalam iman, terutama dalam hal berdoa dan berkurban. Hasil akhirnya kita mudah jatuh ketika masalah datang dalam kehidupan kita.

            Beato Isidorus Bakanja, seorang martir Karmel dari Kongo-Afrika, yang oleh para Karmelit diperingati perayaannya hari ini merupkan contoh seorang pendoa dan pembela iman yang teguh. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah pesan kepada Dorphius pada saat-saat akhir hidupnya ketika ia menderita siksaan fisik karena imannya akan Kristus, “Bila anda bertemu ibu saya, atau jika anda haru ke pengadilan, atau jika anda bertemu dengan seorang imam, katakanlah kepada mereka; saya disiksa karena saya seorang Kristen. Jika saya mati, saya akan berdoa bagi para penyiksa saya.” Inilah sebuah sikap dan pernyataan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman teguh kepada Yesus. Sudahkah kita memiliki iman seperti ini, bahkan hanya sebesar biji sesawi?