Renungan Sabtu, 15 Juli 2017

Posted on Posted in Uncategorized

Renungan Sabtu, 15 Juli 2017

Minggu Biasa IV, Matius 9:14-17

Ulasan Injil hari ini merupakan lanjutan dari Injil hari kemarin yang berbicara tentang penganiayaan yang akan datang dan pengakuan akan Yesus (Mat: 10:16-33). Mengapa harus penganiayaan dan pengakuan yang diangkat oleh penginjil Matius? Hal ini sangat beralasan jika dilihat menurut latar belakang penulisan Injil. Pertama, perlu diingat bahwa Injil Matius ditulis dan ditujukan terutama bagi orang-orang Yahudi-Kristen yang sedang berada dalam sistuasi penganiayaan. Baik itu yang berasal dari luar komunitas maupun dari sesame saudara dalam komunitas. Penganiayaan yang berkepanjangan menyebabkan mereka menderita baik secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, mereka sangat membutuhkan hiburan atau pegangan yang bisa membuat mereka tetap bertahan. Kedua, oleh karena penganiayaan tersebut, maka tidaklah mengherankan bahwa penginjil Matius menulis Injilnya dengan maksud supaya komunitas-komunitas yang sedang berada dalam suasana penganiayaan tersebut mendapat kekuatan melalui pesan-pesan sukacita Injil. Di sini, salah satu hal yang perlu dilakukan oleh setiap orang Kristen Yahudi agar tetap tabah dalam iman adalah dengan tetap mengakui atau mengimani Yesus. Inilah kiranya hal yang perlu mereka sadari dengan sungguh dalam situasi penganiayaan. Yesus adalah hiburan dan pegangan mereka satu-satunya.

Apa yang dapat kita petik dari pesan Injil hari ini untuk perjalanan panggilan kita masing-masing? Sekurang-kurangnya bagi kita yang sedang berada dalam dunia yang semakin modern, yang di satu sisi memberi banyak kemudahan tetapi di sisi lain membawa kita kepada situasi-situasi “penganiayaan baru”. Ada beberapa hal yang patut kita refleksikan bersama sebagai para pengikut Kristus.

Pertama, seorang pengikut Yesus harus mempunyai hubungan yang mendalam denganYesus. Hubungan yang mendalam dengan Yesus memampukan kita untuk tetap tabah dalam setiap situasi hidup baik suka maupun duka, untung maupun malang. Dalam Injil hubungan itu digambarkan dengan hubungan guru dan murid, di mana murid tidak akan melebihi gurunya, atau di sisi lain digambarkan dengan hubungan tuan dan hamba. Ungkapan “guru dan murid” mau menunjukkan bahwa kita harus lebih banyak belajar dari Yesus yang adalah sang Guru sejati dalam kehidupan ini. Hal yang sangat mudah yang dapat dilakukan ketika kita mau belajar dari pribadi Yesus adalah dengan mencintai Kitab Suci. Karena di dalam Kitab Sucilah Yesus hadir dan memberi pesan-pesan yang membebaskan. Dengan demikian benarlah apa yang dikatakan oleh St. Hironimus dalam tulisannya bahwa barangsiapa yang tidak mengenal Kitab Suci, ia tidak mengenal Yesus Kristus. Selanjutnya hubungan hamba dan tuan mau menunjukkan salah satu aspek yang biasanya sangat menonjol ketika berbicara tentang hamba dan tuan, yakni ketaatan. Ketaatan sangat penting dalam hubungan kita dengan Yesus. Yesus sendiri telah menujukkan ketaatan yang sangat luar biasa yakni ketaatan kepada Bapa dengan menyerahkan seluruh dirinya demi menebus dosa-dosa umat manusia. Ketaatan Yesus telah membebaskan manusia dari “penganiayaan-penganiayaan” oleh dosa. Ketaatan seagai seorang hamba juga harus membuat kita tetap tertunduk di hadapan Yesus. Di sini, kata “tertunduk” dimaksudkan supaya kita tetap menyadari segala kelemahan dan keterbatasan diri, dengan demikian curahan kuasa kasih Yesus dapat melimpah ke atas kita.

Kedua, hal yang sangat menonjol dari pesan Injil hari ini adalah berkaitan dengan “keterbukaan” terhadap kehendak Allah. Sebagai seorang yang beriman Kristiani, sifat “keterbukaan” merupakan aspek yang sangat penting. Pertama sekali adalah keterbukaan kepada kehendak dan rencana Allah sendiri. Hanya orang yang terbuka hatinya yang mampu mendengarkan suara Tuhan yang berbicara. Dengan demikian, orang beriman yang memiliki hati terbuka tidak akan takut terhadap ancaman dan penganiyaan dari luar karena ia yakin bahwa apa yang dia wartakan adalah benar dan bermanfaat. Injil dengan sangat indah mengatakan hal ini: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (ayat 28). Di sini, yang pertama-tama perlu ditakuti adalah Tuhan dan bukan manusia, karena hanya Tuhan yang mempunyai kuasa atas diri manusia. Dan takut akan Tuhan inilah awal kebijaksanaan sebagaimana dikatakan oleh pemazmur. Dalam dunia ahkirat nanti hanya Tuhan yang berkuasa untuk menghakimi bukan manusia. Manusia hanyalah setitik debu di mata Tuhan. Pesan penting bagi kita sebagai orang beriman Kristiani adalah janganlah kita saling menghakimi sesama dengan sesuka hati tanpa melihat latar belakang permasalahanya. Jika ada saudara yang berbuat salah tegurlah dia di bawah empat mata, dan hendaknya kasih menjadi dasar bagi segala-galanya. Keterbukaan pada kehendak dan rencana Allah memampukan manusia melihat sesama sebagai saudara dan bukan musuh yang harus diakuti.

Ketiga, hal yang sangat menonjol dari pesan Injil hari ini adalah perhatian Allah yang begitu besar terhadap anak-anak-Nya. Perhatian Allah yang begitu besar dapat dibandingkan dengan cara Allah mengatur kehidupan mahkluk ciptaan-Nya. Burung pipit tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Allah. Allahlah yang mengatur segala gerak gerik kehidupannya. Begitu juga dengan rambut kepala manusia, begitu pun kecil dan halusnya tetapi Allah mempunyai kemampuan untuk menghitung dan mengetahui jumlahnya (ayat 29-30). Belum pernah terdengar sampai saat ini ada manusia yang sanggup menghitung jumlah rambut kepalanya! Allah benar-benar Mahatahu. Hal-hal yang kecil dan tidak berguna di mata manusia saja diketahui oleh Allah. Hal ini mau menunjukkan betapa besar perhatian Allah terhadap manusia. Oleh karena itu, sebagai manusia yang beriman janganlah kita sesekali bosan untuk mau bertemu dengan Tuhan. Tuhan selalu mempunyai waktu dan perhatian untuk kita anak-anak-Nya. Di sini, doa menjadi hal yang sangat penting di mana kita dapat bertemu dengan Tuhan dan merasakan perhatian dan kasih-Nya yang begitu besar.

            Inilah kiranya yang menjadi pesan-pesan Injil hari ini bagi kehidupan iman kita. Iman kita kepada Allah akan bertumbuh jika kita memiliki hubungan yang mendalam dengan Tuhan. Selain itu, hubungan mendalam tersebut juga harus disertai dengan sikap keterbukaan pada kehendak Allah dengan keyakinan penuh bahwa Allah selalu memperhatikan kita anak-anak-Nya. Semoga sabda Allah meresap dan berakar dalam diri kita masing-masing dengan demikian kita semakin mampu menghadapi tantangan-tantangan, baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar.