Renungan Sabtu, 22 Juli 2017, PESTA SANTA MARIA MAGDALENA

Posted on Posted in Uncategorized

Renungan Sabtu, 22 Juli 2017, PESTA SANTA MARIA MAGDALENA

Minggu Biasa XV, Yohanes 20:1,11-18

 

            Pada hari ini Gereja Katolik memestakan seorang tokoh penting dalam sejarah keselamatan umat Kristiani. Ia adalah Maria Magdalena. Ia yang pada mulanya bersama para wanita lainnya melanayi Yesus dan duabelas rasul, setelah sebelumnya disembuhkan oleh Yesus (Luk. 8:2). Peristiwa penampakan Yesus kepada Maria Magdalena barangkali tidak terlepas dari peristiwa penyembuhan Yesus atas dirinya. Mengapa? Karena, setelah penyembuhan itu, kasih Maria Magdalena terhadap Yesus kian besar. Cinta kasihnya yang besar terhadap Yesus membuatnya tetap setia mengikuti Yesus. Hal ini nampak pada saat-saat penderitaan Yesus (Yoh 19:25) dan mengunjungi kubur Yesus (Mat 27:61). Untuk itu, tidaklah mengerankan bagi kita bila penginjil Matius dan Yohanes menuliskan bahwa dialah orang yang pertama-tama melihat Yesus yang bangkit mulia (Mat 28:9-10; Yoh 20:11-18).

            Maria Magdalena setia mengikuti Yesus didasari atas perasaan cinta kasih. Cinta kasihnya yang tulus terhadap Yesus menjadi bukti nyata penyerahan diri terhadap kehendak Tuhan. Kepercayaan yang tinggi inilah yang menguburkan keraguan dan kecemasan terhadap sosok keilahian Yesus. Lalu, Kidung Agung mengibaratkan cinta kasih itu layaknya seorang yang tidak dapat berbuat apa-apa karena terus menerus mencari jantung hatinya meskipun tetap tak dapat menemukannya. “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.” (Kid. 3:1-3). Dengan begitu, kesetiaan Maria Magdalena atas dasar cinta kasih menjurus pada suatu kerinduan yang mendalam akan kehadiran Yesus. Pergi mengunjungi kubur Yesus adalah salah satu bukti nyata atas kerinduannya itu.

            Menjadi orang yang pertama kali melihat penampakan Yesus adalah suatu keistimewaan tersendiri bagi Maria Magdalena. Keistimewaan bagi Maria Magdalena karena Yesus sendirilah yang menyapanya saat panampakan itu. Sapaan Yesus sungguh memberikan peneguhan terhadapnya, sehingga keluarlah satu kata yang sangat berkesan dari Maria. “Rabuni”, yang artinya Guru. Ketika masih bersama Yesus, panggilan Guru terhadap Yesus barangkali terdengar biasa karena Yesus seringkali melakukan pengajaran tentang hukum cinta kasih terhadap umat Israel. Akan tetapi, panggilan guru oleh Maria Magdalena saat penampakan Yesus tentu memiliki arti tersendiri. Guru bukan lagi sekedar orang yang mengajarkan hukum cinta melainkan memberikan kesaksian tentang cinta dan kehidupan itu sendiri. Dialah yang bersaksi atas diri-Nya sendiri mengenai makna terpenting dari kehidupan dan keabadian.

            Tentu, di hari yang istimewa ini kita perlu belajar dari sosok Maria Magdalena. Kita dituntut untuk semakin mencitai, merindukan dan bersaksi tentang Yesus bukan hanya dalam perkataan melainkan dalam perbuatan kita. Mencintai dan setia dengan pekerjaan sehari-hari, mencintai status hidup kita masing-masing adalah bukti nyata bahwa kita telah mempraktekkan hukum kasih itu sendiri. Di samping itu pula, kita telah menjadi saksi bagi diri kita sendiri demi kemuliaan Tuhan. Jelaslah apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus bahwa kita dapat menguduskan diri kita sendiri apabila kita setia dan mencitai pekerjaan kita masing-masing sambil membawa nama Yesus dalam pekerjaan kita itu. Untuk itu setialah membawa Yesus dalam diri kita masing-masing, sehingga kita tak perlu lagi mencari-Nya ke mana-mana. Amin