Renungan Sabtu, 23 September 2017, Hari Minggu Biasa XXIV, Lukas 8:4-15

Posted on Posted in Uncategorized

Rahmat Allah yang cuma-cuma bagi manusia

                Sebagai pengikut Yesus, kita seharusnya bersyukur kepada Yesus berkaitan dengan pengajaran-Nya melalui perumpamaan tentang seorang penabur pada hari ini. Mengapa kita perlu bersyukur? Karena Yesus sebagai seorang guru yang baik tidak hanya memberikan sebuah perumpamaan tanpa penjelasan. Yesus memberikan perumpamaan sekaligus penjelasanya. Dan yang menjadi inti adalah firman Allah yang adalah wujud dari diri-Nya sendiri yang merupakan jalan kebenaran, dan kehidupan. Melalui perumpamaan ini sebenarnya Yesus ingin menyadarkan kita bagaimana gambaran diri kita ketika menerima diri-Nya dalam seluruh pngalaman hidup yang kita alami.

                Menarik sekali bahwa Allah dalam perumpamaan ini digambarkan sebagai seorang penabur yang menaburkan benih di ladang-Nya. Menurut Yesus dalam penjelasan-Nya berkaitan dengan perumpamaan tersebut, benih yang ditaburkan adalah firman Allah yang adalah diri-Nya sendiri. Hal ini adalah benar karena Yesus adalah firman yang menjadi daging. Jadi sekali lagi, dalam perumpamaan ini Yesus hendak menegaskan kembali tentang diri-Nya sendiri. Bagaimana kita menerimanya dalam ladang kehidupan ini?

                Sebelum melihat makna yang terkandung dalam keempat jenis tanah dalam perumpamaan ini, pertama sekali kita perlu melihat Allah sendiri sebagai seorang pribadi yang maharahim. Mengapa Allah dikatakan sebagai Maharahim? Karena dari kelimpahan rahmat-Nya, Allah berkenan turun ke ladang yang adalah gambaran dunia untuk menaburkan benih (Sabda=Yesus). Sama halnya dengan Allah yang mengutus Yesus ke dunia untuk menyelamatkan semua orang. Jika dilihat sesuai dengan teks sebenarnya kita melihat suatu aksi menarik yang dilakukan oleh sang penabur. Sepertinya sang penabur tidak berhati-hati dalam membawa benih tersebut sehingga ada sebagain benih jatuh begitu saja. Ada yang di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, dan di semak duri. Namun bukan hal itu yang mau ditegaskan jika kita mau melihat kemaharahiman Allah. Yang mau ditegaskan adalah rahmat cuma-cuma yang diberikan oleh Allah kepada semua orang tanpa memandang apakah dia orang baik atau orang jahat. Benih yang jatuh begitu saja ketika sang penabur akan menabur melambangkan rahmat cuma-cuma yang diberikan oleh Allah. Yang menjadi problem adalah bagaimana manusia menanggapi rahmat cuma-cuma tersebut. Apakah hanya menerima begitu saja, tanpa kesadaran akan manfaat dari benih tersebut? Ataukah menerima dan menyadari bahwa benih tersebut harus dipelihara dan dikembangkan agar tumbuh dan berbuah? Dan memelihara firman yang adalah Yesus berarti memelihara kabar baik yang telah diwartakan oleh Yesus dalam seluruh kehidupan kita, yang berdasarkan pada kasih sebagai titik tolaknya.

                Dari perumpamaan ini, kita menjadi tahu bahwa sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membuat manusia lalai dalam memelihara dan menjalankan sabda Allah dalam kehidupan ini. Pertama, hati nurani yang tumpul. Sebagaimana dalam ajaran moral maupun etika yang mengatakan bahwa hati nurani merupakan pusat yang memampukan manusia untuk melakukan yang baik dan menghindarkan yang jahat. Hati nurani haruslah benar-benar murni supaya segala sesuatu dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Dalam perumpamaan ini, terjadi bahwa karena hati nurani telah dinodai oleh roh jahat sehingga firman Allah tidak bertahan lama di dalamnya. Banyak manusia yang lebih suka memberikan hatinya sebagai tempat persinggahan bagi iblis dari pada untuk kediaman Yesus. Mereka lebih percaya pada iblis yang hanya memberikan kepuasan sesaat dari pada Yesus yang sanggup memberikan kebahagiaan dalam kehidupan yang kekal di surga. Kedua, iman yang lemah. Iman yang lemah dalam perumpamaan ini digambarkan dengan kurang berakarnya firman yang diwartakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan karena kurangnya iman tersebut maka orang cepat menjadi murtad. Dalam kenyataan terdapat banyak pengalaman yang menunjukkan hal ini. Orang cepat tergiur dengan tawaran-tawaran yang datang dan rela mengorbankan iman kepada Yesus hanya untuk memperoleh kenikmatan yang sesaat. Ketiga, situasi duniawi yang menggiurkan. Misalnya kekayaan selain membuat orang bahagia juga dapat membuat orang menjadi begitu egois dan materialis. Banyaknya harta yang dimiliki sering membuat orang khawatir untuk mengatur kekayaan tersebut. Hal ini seringkali mengorbankan hal-hal yang paling penting seperti iman dan agama. Orang lebih banyak memperhatikan keberadaan kekayaan daripada mengatur kehidupan kerohaniannya.

                Inilah gambaran yang dapat dipetik dari perumpamaan hari ini. Tuhan menghendaki kita menerima rahmat yang Ia berikan secara cuma-cuma dengan baik. Kita ditutut untuk menerima Sabda dalam hati yang penuh syukur tanpa ada beban. Hal ini tampak bagaikan benih yang jatuh di tanah yang baik. Itulah gambaran manusia yang menerima sabda Allah dan merenungkannya dalam kesehariannya dengan demikian menghasilkan buah yang dapat dinikmati bukan hanya bagi diri sendiri tetapi bagi semua orang. Yesus adalah Firman Allah yang hidup. Amin.