Renungan Sabtu, 26 Agustus 2017 Minggu Biasa XX, Matius 23:1-12

Posted on Posted in Uncategorized

Ada sebuah kenyataan bagus yang sering ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat yakni orang yang lebih tua dilIhat sebagai orang yang dapat memberikan panutan, petuah, nasihat, dan arahan bagi mereka yang lebih muda. Benarlah hal ini jika dilihat dalam kacamata pengalaman hidup, karena mereka yang lebih tua dilihat sebagai orang yang sudah banyak berpengalaman dalam mengarungi suka dan duka hidup ini. Mereka telah mengetahui bagaimana caranya berjalan dalam hidup dan mengatasi setiap persoalan yang menimpa kehidupan ini. Salah satu seruan yang sering kita dengan adalah “rambut yang sudah putih melambangkan kebijaksanaa”, namun seringkali kita harus kritis terhadap pernyataan ini karena dalam kenyataan tidak semua orang yang sudah tua atau lanjut umurnya selalu bersikap bijaksana dalam kehidupan ini. Kadang apa yang mereka katakan berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Dalam hal ini orang yang “lebih tua” harus dilihat dalam pandangan yang lebih luas, dan sangat menarik bahwa yang diangkat oleh Yesus dalam Injil hari ini berkaitan dengan para Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang “dituakan” dalam kehidupan beragama. Sehingga apa yang mereka katakana dan ajarkan harus selalu diikuti oleh segenap umat.

            Namun, hari ini Yesus memberikan sebuah peringatan yang sangat keras, bahwa kita boleh mendengarkan ajaran mereka tetapi tidak boleh mengikuti perbuatan yang mereka lakukan. Tentu saja di sini perbuatan yang dimaksudkan adalah perbuatan-perbuatan negatif yang bertentangan dengan hukum Kristus sendiri. Bukti nyatanya adalah mereka mengajarkan kasih tetapi tidak mempraktikan kasih itu, mengajarkan solider terhadap sesama tetapi mereka sendiri tidak mau bersolider (membantu yang miskin, yang tidak mempunyai pakaian, makanan, kesakitan dan lain sebagainya). Kadang mereka melakukannya tetapi dengan tujuan hanya untuk dilihat oleh orang lain. Sekedar hanya untuk mencari kemegahan diri atau supaya dipuji oleh sesama bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat menaruh kasih kepada sesama.

 Hal inilah yang tidak disukai oleh Yesus. Yang lebih diinginkan oleh Yesus adalah disposisi hati kita yang positif, baik itu dalam perkataan maupun dalam tindakan. Karena seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus: Iman harus disertai dengan perbuatan. Hal di atas sudah terdapat dalam Kitab Suci terkhusus dalam diri Abraham (Yakobus 2:21-23) = “Bukankah Abraham bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Isakh anaknya di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”. Perlu diperhatikan benar-benar bahwa Kejadian 15:6 dikutib oleh Yakobus untuk menerangkan perlunya perbuatan, sedangkan ayat yang sama dipakai oleh Paulus untuk menekankan perlunya iman (Rm. 4:3). Keduanya benar karena masing-masing mau menekankan satu aspek lain. Dari sebab itu, Yakobus bisa berkata lebih lanjut. “Apa gunanya saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yak 2:14).

Memang imanlah yang pertama-tama menyelamatkan manusia, tetapi diandaikan juga bahwa iman itu segera dihayati dalam perbuatan-perbuatan baik. Yesus sendiri sering menjanjikan banyak ganjaran di surga atas perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Itu berarti bahwa keselamatan manusia adalah anugerah gratis dari Allah berkat iman, tetapi juga sekaligus suatu tugas.

Selanjutnya sabda Yesus bahwa barang siapa yang terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, mau menyadarkan kita bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah Tuhan dan Tuhan bisa mengambilnya kapan saja Ia kehendaki apa yang kita miliki, Oleh karena itu, janganlah kita bermegah-megah akan kedudukan, pekerjaan hebat yang kita miliki, jabatan dan lain-lain. Karena pada akhirnya, semuanya itu tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah.