Renungan Sabtu, 29 Juli 2017, Peringatan Wajib St. Marta; Minggu Biasa XVI, Yohanes 11:19-27

Posted on Posted in Uncategorized

Situasi penderitaan, kemalangan, dan kehilangan yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia seringkali membawa rasa putus asa bagi mereka yang mengalaminya. Sebagai akibatnya banyak orang jatuh ke dalam situasi depresi yang berkepanjangan, bahkan ada yang menjadi gila dan berujung pada kematian. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sebagai orang yang beriman Katolik pun, hal seperti ini sering terjadi. Meskipun sudah tahu bahwa mereka sebenarnya mempunyai seorang yang bisa diandalkan yakni Yesus Kristus, namun seringkali orang lupa akan pribadi Yesus. Orang tidak lagi mengandalkan Yesus sebagai pribadi yang dapat menyelamatkan: menyembuhkan yang sakit, memelekkan mata yang buta, bahkan membangkitkan yang meninggal. Orang lebih cepat beranggapan bahwa Tuhan telah menutup mata terhadap kemalangan yang dideritanya tanpa terlebih dahulu bersatu dan berkomunikasi dengan Tuhan dalam penyerahan diri yang total. Bahkan lebih parah lagi, ada sebagain orang yang karena penderitaan yang dialaminya begitu berat menyebabkan ia menyangsikan keberadaan Tuhan, bahkan merasa bahwa Tuhan itu tidak ada.

Bacaan-bacaan suci hari ini merupakan inspirasi yang sangat indah bagi perjalanan iman kita untuk hari ini dan juga di hari-hari yang akan datang. Secara khusus berkaitan dengan bagaiman kita harus selalu mempercayakan diri kepada Tuhan meskipun berada dalam situasi penderitaan dan kemalangan. Bacaan pertama yang diambil dari Kitab Keluaran 24:3-8 menujukkan bahwa penderitaan yang dialami oleh umat Israel dalam pengembaraan mereka di padang gurun tidak meyebabkan mereka menjauh dari Tuhan. Walaupun kita tahu dalam kisah-kisah sebelumnya atau sesudahnya, mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk hatinya. Yang seringkali menyangsikan penyertaan dan bimbingan Tuhan. Namun dalam pribadi Musa sebagai seorang pengantara, hubungan persatuan dengan Allah selalu dibina. Sangat luarbiasa bahwa kesetiaan mereka kepada Tuhan dinyatakan dalam sebuah “kredo” yang sangat indah, “Segala firman yang telah diucapkan oleh TUHAN itu, akan kami lakukan”. Hanya mereka yang memiliki iman yang teguh bisa berkata-kata seperti apa yang dikatakan oleh umat Israel ini. Melaksanakan firman Tuhan dalam situasi penderitaan seperti yang dialami oleh umat Israel bukanlah hal yang mudah. Namun sebagai orang beriman, inilah hal yang harus kita lakukan yakni menjadikan sabda Allah tetap hidup dan berbuah meskipun dalam situasi yang penuh penderitaan. Hanya dengan iman yang teguh orang dapat melalui semuanya. Sangat disayangkan bahwa orang seringkali lari dari sabda Tuhan dan mencari hiburan dengan hal-hal lain. Sabda Tuhan sebagai kabar sukacita tidak diindahkan.

Selanjutnya, hal yang sama ditemukan juga dalam pribadi Marta yang digambarkan oleh penginjil Yohanes hari ini (Yohanes 11:19-27). Kematian yang dialami oleh saudaranya, Lazarus, tentu meninggalkan duka dan perasaan kehilangan yang mendalam. Hal ini sangat wajar dalam kehidupan seorang anak manusia. Namun, bagi Marta, kepercayaan yang teguh kepada Yesus yang adalah jalan, kebenaran dan kehidupan telah mengalahkan segala duka, kehilangan dan kecemasan yang dialaminya. Inisiatif Marta untuk lebih dahulu datang menemui Yesus (ayat 20) dan pernyataan imannya kepada kuasa kasih Yesus, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia”, menunjukkan betapa besar kepercayaan dan penyerahan diri yang total kepada Yesus. Begitupun selanjutnya yang dapat ditemukan dalam pribadi Maria. Sungguh mengagumkan bahwa kepercayaan mereka yang total dalam situasi kehilangan tersebut telah dijawab oleh Yesus. Saudara mereka yang telah meninggal dibangkitkan oleh Yesus. Yesus sangat menghargai setiap kepercayaan dan kesetiaan para pengikut-Nya. Ia mengganjarinya dengan hal-hal luarbiasa yang tidak dapat dipikirkan secara manusiawi. Seperti dalam kisah Injil hari ini, Lazarus dibangkitkan oleh Yesus. Iman yang teguh dari seseorang dapat bermanfaat bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Pesan apa yang dapat kita petik dari bacaan-bacaan suci hari ini? Dilihat secara keseluruhan baik dari kisah Perjanjian Lama yang berkisah tentang kpercayaan umat Israel kepada Tuhan, maupun dalam kisah Perjanjian Baru yang berkisah tentang Lazarus dibangkitkan, di mana kepercayaan Maria ditampilkan. Kita menemukan sebuah pesan penting bagi perjalanan iman ditengah dunia, yang menjadi dasar dalam hubungan kita dengan Tuhan. Hal mendasar tersebut adalah kepercayaan yang total pada kehendak Allah. Berbicara tentang kepercayaan berarti berbicara tentang iman. Dan iman tersebut sangat berkaitan dengan kesetiaan. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh seorang imam, bahwa dilihat dari dasar katanya dalam Bahasa Inggris, iman dan kesetiaan itu sangat berhubungan. Iman=faith sedangkan kesetiaan=faithfulness. Hanya orang yang memiliki kesetiaan dapat menunjukkan iman yang teguh kepada Tuhan sebagaimana ditunjukkan oleh orang Israel dan Marta dalam kisah bacaan suci hari ini.

Hari ini, Gereja memberikan penghormatan khusus kepada St. Marta. Marta telah menujukkan sebuah kesetiaan dan kepercayaan yang mendalam kepada Yesus. Oleh karena itu patutlah kita mencontohi apa yang telah diperbuat oleh Marta. Mungkin dalam bentuk yang lebih sederhana, kita tunjukkan dalam kesetiaan kita kepada suami, isteri, anak-anak, keluarga, pekerjaan, dan hal-hal baik lainnya. Itulah yang dapat membantu kita supaya dapat setia kepada Tuhan. “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10). Semoga Santa Marta mendoakan kita semua, agar terus menaruh kepercayaan kepada Tuhan Yesus dalam seluruh situasi dan pergulatan hidup di dunia ini.