Renungan Sabtu, 5 Agustus 2017

Posted on Posted in Uncategorized

Renungan Sabtu, 5 Agustus 2017

Minggu Biasa XVII, Matius 14:1-12

            Dalam dunia yang penuh dengan berbagai macam persoalan, sangat dibutuhkan suatu kebijaksanaan dalam bertindak, bertutur, berpikir, dan berelasi dengan sesama. Kebijaksanaan hidup setiap orang terbentuk oleh nurani yang murni. Dengan bertindak dan bertutur secara bijak, setiap orang akan hidup damai dan rukun. Tanpa itu, orang akan bertindak tidak sesuai dengan norma dan moralitas yang ada. Dengan begitu semua orang akan menjadikan yang lain sebagai musuh yang hendak menantang dirinya.   

            Berkaca pada Injil yang kita dengarkan pada hari ini, mengisahkan suatu peristiwa di mana Herodes kehilangan hati nuraninya dalam mengambil keputusan. Ia seakan-akan dikejar oleh rasa bersalah dan sebuah sumpah yang tidak bijak. Sumpah Herodes berbuntut panjang hingga pada pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis. Untuk merealisasikan sumpahnya tersebut, ia harus melawan hati nuraninya sendiri. Perlu kita sadari bahwa hati nurani seseorang merupakan tempat di mana Tuhan bersemayam. Untuk dalam memutuskan sesuatu (bertindak), Herodes seharusnya mendengarkan kata hatinya (nurani) yang terdalam. Namun, nuraninya hilang sejak ia melawan “dirinya sendiri” dan Tuhan.

            Herodes membunuh seorang kudus (yang dianggap nabi oleh banyak orang) demi menuruti kemauan gadis berdosa. Gadis ini dianggap berdosa karena ia merupakan “tangan kanan” ibunya. Dan ibunya sendiri adalah seorang pendosa karena telah menikah dengan Herodes, iparnya sendiri. Perbuatan mereka dapat dikatakan sebagai perbuatan dosa karena telah melanggar hukum taurat (dianggap najis/tidak diperbolehkan dalam budaya Israel). Dari sini, dapat kita ketahui bahwa Herodes merupakan “pemuja” setan dan “pembunuh” yang kudus (Allah sendiri).

            Penyesalan Herodes atas sumpahnya itu tidaklah cukup untuk meluluhkan niatnya membunuh Yohanes Pembaptis. Herodes masih terhimpit pada kekuasaan dan wibawa semu. Berangkat dari pengalaman yang dirasakan oleh Herodes, kita tentu dituntut untuk merawat hati nurani agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal duniawi yang terus menerus menawarkan berbagai kenikmatan dan juga persoalan. Untuk itu belajarlah dari Bunda Maria yang senantiasa mempertimbangkan begitu banyak persoalan dalam hatinya. Dari setiap persoalan yang dihadapinya, Bunda Maria menyerahkan semuanya pada penyelenggaraan Ilahi. Apakah kita dalam menghadapi persoalan, masih mengandalkan Tuhan (ingat Tuhan) atau mengandalkan diri sendiri?