Renungan

Renungan Sabtu, 5 November 2016

Pekan Biasa XXXI: Flp. 4:10-19, Mzm. 112: 1-2.5-6.8a.9, Luk. 16:5-9

Belajar Kesetiaan dari Maria

Yesus dalam Injil hari ini menyampaikan dua maksud untuk para pendengar-Nya. Maksud pertama adalah pesan untuk para murid-Nya (kaum yang mendengarkan). Maksud kedua adalah kritik untuk orang-orang Farisi (kaum pencemooh). Pesannya ialah segera melakukan apa yang dikatakan-Nya, sedangkan kritiknya ialah untuk merubah perilaku kemunafikan. Menariknya adalah Yesus dalam Injil hari ini lebih banyak menyampaikan pesannya daripada kritikan.

Pesan dan kritikan Yesus kepada kedua tokoh dalam Injil hari ini pun dapat menjadi pembelajaran untuk kita. Walapun situasi dan ketokohannya berbeda, namun dalam keseharian kita sebagai manusia tentu mempunyai kemiripan sifat dengan kedua tokoh tersebut. Ada beberapa pokok pikiran penting yang dapat kita petik dari pesan dan kritikan Yesus dalam Injil hari ini, yaitu:

Pertama, kebergantungan. Manusia hidup bergantung dengan yang lain, entah itu sesama atau pun Tuhan. Kebergantungan manusia ini, menunjukkan bahwa manusia itu lemah dan rapuh. Karena lemah, manusia butuh kekuatan dari luar dirinya yang dapat menolong. Yesus dalam Injil meminta kita untuk cermat memilih kekuatan itu. Jelas bahwa mammon tidak dapat menolong. Untuk itu ikatlah persabatan dan bergantunglah pada Allah.

Paulus pun demikian. Ia mampu mengatasi segala permasalahan hanya karena Ia menyerahkan semuanya kepada Dia yang memberi kekuatan. Kebergantungan Paulus sangat jelas terlihat ketika ia menerima kiriman dari Epafroditus. Sebagai rasul ulung, ia sangat bergantung pada Allah dan sesama.

Apakah kita juga demikian? Sikap individualis seringkali membuat kita sombong dan tidak mengakui keberadaan sesama dan Tuhan. Dalam komunitas kerja dan rumah tangga pun, kita seringkali berjalan dengan kepentingan masing-masing.

Kedua, Kesetiaan. Dalam Injil, Yesus memperlihatkan pembuktian terbalik. Setia terhadap perkara kecil akan menuntun orang pada perkara besar. St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus telah membuktikan perkataan Yesus ini. Ia menjadi “besar” bukan karena pekerjaan yang besar. Ia melakukan hal-hal kecil dengan tekun dan setia, namun bermakna. Hanya orang yang setia dengan pekerjaan dan rutinitas hariannyalah yang membuat dirinya bermakna bagi sesama dan Tuhan.

Masih adakah kesetiaan di hati kita? Hati kita penuh dengan kemunafikan. Berbuat suatu hal yang luar biasa dengan harapan apresiasi dari banyak orang. Kesetiaan kita terhadap sesama dan terhadap rutinitas sering dibarengi dengan kepentingan lain.

Ketiga, Hamba Uang. Yesus mencap orang Farisi dengan sebutan hamba uang, bukan tuan atas uang. Sebutan hamba uang tentu sangat relevan untuk kita. Uang menjadi tuan atas diri kita. Ketika mengahadapi berbagai persoalan rumit, kita seringkali mengandalkan uang untuk mengatasi persoalan itu. Uang diandalkan karena kita sudah tidak yakin dengan diri kita. Kita lupa bahwa Tuhan lebih kuat di atas semuanya itu.

Perlu kita ketahui bahwa jati diri manusia lebih mulia dan lebih mahal dari uang. Akan tetapi, dengan persoalan hidup yang rumit, kita menjadikan jati diri kita sebagai “barang” murahan.

Keempat, Belajar kesetiaan dari Maria. Bunda Maria adalah sosok yang sederhana dan tidak pernah meninggikan dirinya, meskipun ia turut berperan menghadirkan Sang Penyelamat. Yang ia lakukan ialah setia mendengarkan dan melaksankan apa yang Tuhan katakan kepada dirinya. Ia tetap setia hingga menyaksikan langsung Putra yang pernah ia kandung, wafat dengan cara yang paling keji. Sebagai orangtua, apakah kita sanggup dan setia dengan rendah hati menyaksikan anak kita diperlakukan seperti itu? Kesetiaan Maria ini sungguh total tanpa iming-iming jaminan hidup atau tempat istimewa di mata Tuhan.

Kita pun dapat belajar banyak kesetiaan dari Maria. Dalam berbagai penampakannya, Maria meminta kita untuk terus setia berdoa. Di Fatima, Bunda Maria berjanji untuk menyelamatkan jiwa-jiwa di Api Penyucian pada setiap hari Sabtu Pertama, kalau memenuhi syarat tertentu. Syaratnya adalah setia berdoa Rosario dan mengenakan skapulir, karena Rosario dan Skapulir tak bisa dipisahkan. Doa Rosarioa dan Salam Maria adalah doa yang paling mudah namun sangat bermakna. Dengan berdoa, kita mengandalkan Tuhan yang dapat menolong bukan yang lain. Untuk itu, berdoalah dan jadikanlah itu sebagai bagian dari rutinitas hidup kita.