Sejarah Singkat Berdirinya Marian Centre Indonesia

Gagasan Awal

Pada sekitar tahun 1990, atas prakarsa Bapak Ir. Rubijanto A. Hamidjojo, beberapa pertemuan diadakan di Jakarta dengan pembicara Dr. Victor Wee dan isterinya Viviene, dari Marian Centre di Singapura.

Selanjutnya Bapak Rubijanto merasa amat terkesan ketika beliau berada di Brunei Darulsalam, mendengar ceramah mereka mengenai Maria, Ratu Perdamaian dari Medjugorje, tentang pesan-pesan penampakan Maria di Medjugorje, dan tentang pentingnya perjuangan untuk Pro Life sekaligus anti aborsi. Dalam kegiatan pertemuan-pertemuan itu dilibatkan pula Dr.Murcuanto Diwanto, Ibu Sioe Hadinata, Ibu Naniek Hadiwibowo, Bapak Edie Wangsa, Bapak Setiadhi Lukman dan Ibu Ira Lukman.

Setelah cetusan ide pertama ini, timbullah cita-cita Pak Rubijanto dan kelompok ini untuk mendirikan suatu wadah atau lembaga khusus untuk mempersatukan para pencinta Maria (devosan) dengan berbagai karya kerasulan dan pelayanan khusus yang bisa dikembangkan bagi kepentingan umat Katolik. Cita-cita ini sangat didukung oleh almarhum Mgr. V. Kartosiswoyo Pr.

Maka beberapa orang sebagai delegasi dari kelompok ini datang menghadap almarhum Mgr. Leo Sukoto SJ, untuk membicarakan maksud dan keinginan mendirikan lembaga Marian Centre Indonesia di Jakarta, dengan karya kerasulan dan pelayanan seperti yang dilakukan oleh Dr. Wee dan teman-temannya di Keuskupan Singapura. Mgr. Leo Sukoto SJ sangat mendukung gagasan ini dan berpesan agar Marian Centre Indonesia tidak hanya menjadi pusat informasi tentang Maria, dan menjadi satu wadah kerjasama untuk mereka yang berdevosi kepada Maria melalui berbagai bentuk dan jenis kerasulannya, tetapi juga terbuka untuk berbagai bentuk karya sosial Gereja lainnya. Untuk itu diharapkan agar Marian Centre Indonesia dapat bekerjasama dan melibatkan kelompok atau organisasi rohani Maria lainnya seperti Gerakan Imam Maria, Legio Maria, Kerasulan Maria Fatima, dan lain-lain.

Menindaklanjuti berbagai pertemuan, akhirnya dibuat Akte pendirian Yayasan Marian Centre – Ave Maria, dengan tanda daftar Yayasan pada Dinas Sosial Pemda DKI Jakarta No: 243, tanggal 28 Oktober 1991, tentang perlunya dibentuk yayasan atau lembaga Marian Centre Indonesia dan akte ini telah diperbarui beberapa kali.

 
Lokasi kegiatan MCI

Ada usaha untuk menyediakan satu tempat di Kebayoran Baru yang dimaksudkan untuk kegiatan Marian Centre Indonesia, dan sempat pula Pastor H. Pennock OFM Cap. yang saat itu menjadi imam di paroki St. Fransiskus Asisi – Tebet, tinggal di sana selama beberapa waktu dan beliau bertugas sebagai Romo Pembimbing.

Dalam salah satu kesempatan mengunjungi kantor Marian Centre Indonesia, Romo Soenarwidjaja (Vikjen KAJ), selain memberikan dan menyatakan dukungannya, beliau juga memberi pesan agar Marian Centre Indonesia dan majalahnya dalam mewujudkan misi dan kerasulannya kiranya tetap memperhatikan pula sifat dan tuntutan dasar karya pastoral hidup menggereja di KAJ yaitu mandiri-misioner dan mempunyai daya pikat dan daya tahan. Selain itu MCI perlu pula menjalin kerjasama dengan lembaga gerajawi lainya, selain melakukan karya-karya sosial. Prinsip kehati-hatian dalam penterjemahan naskah dan pemuatan artikel untuk majalah perlu selalu diperhatikan.

Awal tahun 1997 semua kegiatan Marian Centre Indonesia pindah ke sebuah rumah di jalan KS. Tubun IIC/2, Petamburan, Jakarta Barat. Tersedia pula Ruang Doa atau Kapel Kecil, untuk berbagai kegiatan pelayanan doa yang diselenggarakan oleh Marian Centre Indonesia. Di sini mulai banyak orang datang untuk lebih mengenal Marian Centre Indonesia dengan acara-acara doanya, pelayanan serta kerasulannya, di samping Majalah Ave Maria. Tersedia juga toko yang menjual aneka benda rohani dari dalam dan luar negeri serta bacaan rohani baik yang diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia maupun dari penerbit lain.

Sejak tahun 2010 hingga kini, semua kegiatan Marian Centre Indonesia pindah ke sebuah rumah di jalan Karmel II Blok D no. 1, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

 

Penerbitan Majalah

Pada tahun 1995 Marian Centre Indonesia mulai dengan kegiatan awal yaitu menerbitkan majalah Marian Centre Indonesia. Kegiatan awal menerbitkan majalah edisi perdana ini bertepatan dengan kedatangan Fr. Jozo Slavko OFM dari Medjugorje. Majalah ini dibagikan dalam acara khusus di Gereja St. Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta Timur yang dihadiri oleh sekitar sekitar 6000 orang, yang dengan penuh antusias mengikuti Misa dan ceramah serta acara penyembuhan yang berlangsung selama kurang lebih 4 jam. Panitia membagikan setangkai bunga mawar, gambar Ratu Perdamaian, di samping majalah perdana tersebut.

Dalam penerbitan kedua, Januari l996, nama Majalah Marian Centre Indonesia diubah menjadi Majalah AVE MARIA, yang terbit 4 kali dalam tahun itu. Kemudian tahun 1997 terbit 6 kali dan tahun 1998 terbit 7 kali, yaitu pada bulan Januari, Maret, Mei, Juli, September, November ditambah satu edisi khusus bulan Oktober. Karena satu dan lain hal, sejak tahun 2010 hingga sekarang, majalah Ave Maria terbit 6 kali setahun pada bulan ganjil.

Penerbitan majalah Ave Maria ini bertujuan untuk membantu umat beriman, memahami dan menghayati ajaran Gereja Katolik, Tradisi Gereja, Kitab Suci, Sakramen-sakramen dan teladan Orang Kudusnya, khususnya tentang Bunda Maria.

 

Jenis Kegiatan Lain

Dalam perkembangan kegiatan kerasulannya, pada tahun 1998 Marian Centre Indonesia mengadakan Seminar Maria Bunda Segala Bangsa bersama Kelompok Doa Kemanggisan. Fr. Paul Maria Sigl dari Konggregasi Family Co-Redemptrix menjadi pembicara tamu di Gereja Maria Bunda Karmel – Kebun Jeruk. Selain itu pada tahun 2000 diadakan Seminar Maria yang merupakan kerjasama Marian Centre Indonesia dengan Gereja Orthodoks Yunani, dan sebagai pembicara tamu diundang Romo Daniel dari Gereja Orthodoks, di samping Rm. Petrus Maria Mitro Dharmo OMI dari Bontang – Kalimantan Timur. Marian Centre Indonesia juga menyelenggarakan ziarah dengan berbagai kelompok khususnya ke berbagai tempat ziarah di Jawa. Disamping 2 kegiatan yang disebutkan di atas, MCI telah menyelenggarakan berbagai kegiatan rohani lain.

 

Pelaksana Harian
Karyawan

Pada awalnya seluruh kegiatan harian hanya dilakukan oleh sepasang suami istri. Namun dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya kegiatan, hingga kini pelaksana harian ada tujuh orang dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Imam

Pada bulan Agustus 2000, Marian Centre Indonesia mendapat bantuan seorang tenaga imam, Romo Yosef Tarong Pr, dari Keuskupan Ruteng, untuk bekerja dan bertugas sebagai imam moderator. Dengan itu berbagai bentuk dan jenis pelayanan dan kerasulan yang khas dilaksanakan oleh seorang imam, antara lain mempersembahkan Misa Jumat pertama, Sabtu pertama, pengakuan dosa dan lain-lain dapat mulai dapat dilaksanakan. Tahun 2007 Romo Yosef Tarong Pr wafat ketika masih menjabat sebagai imam moderator Marian Centre Indonesia. Selama 5 tahun Marian Centre Indonesia hanya mendapat pendampingan dari beberapa Imam sebagai tenaga lepas. Dan akhirnya pada bulan Agustus 2012, Romo Emanuel Pine Pr berkarya di Marian Centre Indonesia menggantikan posisi almarhum Romo Yosef Tarong Pr selama 3 tahun. Kemudian sejak bulan November 2015 hingga sekarang seluruh kegiatan MCI dipimpin oleh seorang Imam yang menjabat sebagai Direktur sekaligus sebagai Imam Moderator MCI yaitu Romo Stefanus Buyung Florianus O.Carm.

 

Legalitas secara hukum

a.     Akte pendirian Yayasan Marian Centre – Ave Maria, dengan Tanda Daftar Yayasan pada Dinas Sosial Pemda DKI Jakarta No 243, tanggal 28 Oktober 1991, tentang perlunya dibentuk yayasan atau lembaga Marian Centre Indonesia MCI.

 

b.     Akte pendirian Yayasan Marian Centre Indonesia No. 5 tanggal 15 Januari 2001dibuat di hadapan Notaris Winarti Lukman Widjaja SH, dengan Organ Yayasan sebagai berikut :

Badan Pendiri : Sigit Nugraha Kadharman, Juliarti Sutanto, Dr. Murcuanto Diwanto, Ira Lestiani

Badan Pengurus : Sigit Nugraha Kadharman, Juliarti Sutanto, Ir. Setiadhi Lukman, Theresia Srihesti, Ir. Susianti Margaretha Handojo, Ira Supryanata Sidik dan  Ira Lestiani

Akte ini telah didaftarkan pada Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 23 Februari  2001 dengan nomor 30/2001

 

c.     Akte Perubahan No 5 tanggal 12 September 2003 dibuat di hadapan Notaris Winarti Lukman Widjaja SH, dengan Organ Yayasan sebagai berikut :

Pembina : Juliarti Sutanto, Ira Supryanata Sidik, Ira Lestiani, dan Dr. Murcuanto Diwanto

Pengawas : Mgr. Kartosiswaya Valentinus Pr. dan RD Yosef Tarong

Pengurus : Sigit Nugraha Kadharman, Theresia Srihesti, Ir. Setiadhi Lukman dan Ir. Susianti Margaretha Handojo    

 

Kedua akte yang disebut dalam butir b dan c telah diajukan ke Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan mendapat pengesahannya pada tanggal 28 April 2004 dengan nomor C-207.HT.01.02.TH2004. Dengan demikian Akte Yayasan Marian Centre telah terdaftar dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia tanggal 25 Mei 2004 dengan no. 42.

 

d.     Akte Perubahan No 4 tanggal 24 Agustus 2010 dibuat di hadapan Notaris Winarti Lukman Widjaja SH, dengan Organ Yayasan sebagai berikut :

Pembina : Juliarti Sutanto, Irma Nurmalawati Surjanto, Ira Lestiani, Dr. Murcuanto Diwanto

Pengawas : Mgr. RD Kartosiswaya Valentinus

Pengurus : Sigit Nugraha Kadharman ,Theresia Srihesti, Ir. Adi Susanto dan Ir. Susianti Margaretha Handojo  

 

e.     Akte Perubahan No 140 tanggal 29 Juni 2015 dibuat di hadapan Notaris Linda Herawati SH dengan Organ Yayasan sebagai berikut :

Pembina : Like Rachmat, Irma Nurmalawati Surjanto, Ira Lestiani, Cecilia Laihad Wihardja

Pengawas : RD Royke Djakarya

Pengurus : Sigit Nugraha Kadharman, Joey Wihardja, Ir. Susianti Margaretha Handojo, Ir. Adi Susanto, Ira Supryanata Sidik, Ariono Hadinoto dan Corry Mangunprawira      

 

Legalitas dalam hirarki Gereja

Secara hirarki Gereja karena Marian Centre Indonesia berkedudukan di Jakarta, maka dalam hubungannya dengan Keuskupan Agung Jakarta, Marian Centre Indonesia terdaftar dan termasuk dalam kelompok kategorial yang tergabung di dalam forum Pertemuan Mitra Kategorial (Pemikat) KAJ sejak tahun 2000.

 

Semoga dengan semakin banyak putra-putri Maria yang tersentuh, dan rela melibatkan diri melakukan kerasulan dan membantu Marian Centre Indonesia, dan terutama dengan bantuan Bunda Maria sendiri, Marian Centre Indonesia dapat berkembang terus sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya untuk menghantar semua orang kepada Yesus Putranya.