Tanggal 17 Mei. Lukas 2:41-52

Posted on Posted in Uncategorized

Mengikuti Tuhan Dengan Salib

Peristiwa Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel merupakan suatu peristiwa yang penuh sukacita bagi dunia. Percakapan antara Malaikat dan Maria yang diakhiri dengan kesediaan Maria menjadi Bunda Yesus Kristus pastilah merupakan suatu percakapan yang sangat penting dalam sejarah umat manusia. Peristiwa itu menjadi penting karena ada seorang pribadi yang mau membuka hatinya untuk tugas istimewa itu. Ia memberikan dirinya menjadi pintu bagi rahmat Allah yang begitu besar untuk masuk ke dalam dunia.
Setelah menerima tugas itu, Maria pun menerima konsekuensi atas kesediaannya menjadi Bunda Yesus. Pada awal Maria belum mengetahui apa yang terkandung dalam jawabannya itu. Tetapi lambat laun ia mengerti akan derita yang harus ditanggungnya dalam tugas keibuannya. Ketika ia memersembahkan bayi Yesus di Bait Allah, ia disadarkan oleh ramalan Simeon: “sesungguhnya anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembusi jiwamu sendiri” (Luk, 2:34-35). Maria mulai menyadari bahwa dia akan mengambil bagian dalam penderitaan yang dialami oleh Putranya itu.
Maria juga harus menanggung derita karena tugasnya sebagai seorang ibu. Peristiwa Yesus yang menghilang di Bait Allah menimbulkan kecemasan di dalam hatinya: “Nak, mengapa engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapamu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”(Luk,2:48). Bisa dirasakan juga bagaimana kecemasan dan ketakutan yang dialami Maria ketika menerima berita bahwa Herodes akan membunuh semua bayi yang berumur dua tahun ke bawah. Mereka lalu menyingkir ke Mesir.
Lambat laun, sejalan dengan kejadian demi kejadian yang dialaminya, Maria mulai mengerti akan derita yang harus ditanggungnya. Peristiwa salib adalah peristiwa yang amat menyakitkan bukan hanya bagi Yesus, tetapi juga bagi Maria. Ia harus menyaksikan sendiri Putranya mengalami penyiksaan dari para algojo yang bengis. Saat itulah Maria mengambil juga derita yang dialami Putranya.
Kita akan menemukan hal yang sangat kontras antara kesetiaan yang ditunjukkan oleh Maria dengan kesetiaan para murid Yesus. Sebagai orang yang mengenal Yesus dan hidup bersama-Nya, para murid melakukan tindakan yang sebaliknya. Hal ini nyata dalam peristiwa penangkapan Yesus oleh para algojo di taman Getsemani. Yesus yang hendak memulai masa sengsaranya ditinggalkan begitu saja oleh para murid. Mereka masing-masing melarikan diri dan tidak mau mengambil bagian dalam penderitaan Yesus. Bahkan Petrus yang pernah dipercayakan oleh Yesus untuk memegang kunci Kerajaan Surga (Mat 16:13-20), justru menyangkal Yesus demi kenyamanan pribadi. Padahal Yesus pernah bersabda kepada mereka semua: “setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk, 9:23). Tetapi para murid itu tidak mampu menyangkal dirinya sendiri. Mereka lebih memikirkan ego mereka masing-masing yakni keselamatan diri. Petrus tidak menyangkal dirinya sendiri, tetapi menyangkal Yesus. Mereka tidak mau memilkul salib mereka: mengambil bagian dalam salib Yesus. Hanya Rasul Yohanes seorang yang berjalan bersama Maria dan menyaksikan sendiri bagaimana Guru yang sangat dikasihi dan dikaguminya mendapat perlakuan yang kejam dari para algojo.
Dari gambaran tentang kesetiaan dalam mengikuti Yesus, setiap orang Kristiani mestinya terpikat dengan sosok yang amat sederhana yakni Bunda Maria. Harus diakui bahwa Bunda Maria telah memberikan teladan yang amat baik bagi pengikut Kristus sepanjang zaman bagaimana seharusnya menjadi pengikut Kristus yang sejati. Ia telah mengambil bagian dalam kesengsaraan Kristus. Sebagai seorang ibu, Maria pastinya turut merasakan penderitaan bersama Putranya. Kesedihan dan dukacita pasti memenuhi hatinya sepanjang jalan salib itu.
Zaman ini adalah zaman yang penuh tantangan bagi setiap umat Kristiani. Kemajuan zaman membuat semakin banyak orang terjebak dalam pencarian akan kesenangan dan kenikmatan dunia. ‘hidup ini hanya sementara,. Karena itu renggutlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi masih ada kesempatan’. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali orang Kristiani yang terjebak dalam gaya hidup seperti ini. Karena itu, mengikuti Kristus pada zaman ini adalah suatu tantangan yang sangat berat. Di satu sisi, dunia memberikan tawaran yang menggiurkan, tetapi di sisi lain Yesus menuntut penyangkalan diri dan penerimaan salib. Manusia zaman ini cenderung untuk mencari aman, tetapi Yesus mengajarkan para pengikutnya untuk berani masuk dala zona yang kurang nyaman seperti domba yang masuk dalam kumpulan serigala.
Di jalan salib itu, Maria memberikan teladan kepada setiap pengikut Kristus. Ia mengajarkan semua pengikut Kristus untuk berani menanggung segala yang harus dipikul oleh Pengikut Kristus. Ketika Yesus meminta para pengikutnya menyangkal diri, ia harus menyangkal diri. Ketika Yesus meminta para pengikutnya memanggul salib, maka ia harus memanggul salib. Ia harus mengambil bagian dalam penderitaan Yesus. Salib adalah tanda yang akan selalu melekat dalam diri setiap orang Kristiani. Siapapun yang menolak salib, ia tidak layak mengikuti Kristus. St. Yohanes dari Salib pernah menasihati bahwa orang tidak bisa mengikuti Yesus tanpa salib. Dan sungguh Bunda Maria telah memberikan contoh yang amat baik untuk para pengikut Kristus. Marilah kita mengikuti Kristus bersama Bunda Maria.

Fr. John Muga, O. Carm