Tanggal 18 Mei. Lukas 17:5-10

Posted on Posted in Uncategorized

Menjadi Pelayan Yang Tabah

Ketika mengadakan perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya, Yesus sudah menyadari bahwa saat-Nya sudah tiba untuk kembali kepada Bapa-Nya. Ia harus melaksanakan tugas dari Bapa yang harus ditanggung-Nya. Ia harus menderita dan menjadi penebus dosa bagi umat manusia. Ia sudah menyadari hal itu jauh sebelumnya. Bahkan dalam pewartaan-Nya pun, ia pernah berkata: “Anak Manusia harus diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga dia akan bangkit” (Luk. 18:32-33).

Di tengah perjamuan itu, terjadi suatu hal yang kontras antara Yesus dan para murid-Nya. Di satu sisi, Yesus hendak menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa. Dia harus melaksanakan tugas dari Bapa-Nya. Dia adalah Tuhan tetapi dia mau merendahkan diri sama dengan manusia untuk menebes manusia itu. Di sisi lain, ada para murid yang menunjukkan semangat yang bertolak belakang. Mereka sibuk memperdebatkan siapakah yang paling besar di antara mereka. Mereka mungkin saja berusaha untuk menjagokan diri mereka masing-masing. Kontrasnya terletak pada ketaatan Yesus untuk melayani kehendak Bapa dan keinginan para murid untuk menjadi paling besar di antara mereka. Yesus mau menjadi hamba, tetapi para murid mau menjadi tuan.

Mendengar para murid itu, Yesus memberi pertanyaan retoris: “siapakah yang paling besar: yang duduk makan atau yang melayani? Bukankah yang duduk makan?” tidak dapat dipungkiri lagi hal inilah yang sedang dicari oleh para murid. Mereka sedang mencari siapakah yang paling besar di antara mereka. Orang yang paling besar, dialah yang akan dilayani oleh yang lainnya. Tetapi Yesus dengan tegas menandaskan demikian: “tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” Yesus rupanya sudah menangkap kekeliruan para murid. Dan pasti para murid mati kutu mendengar kata-kata Yesus. Dia yang adalah Guru dan Tuhan menunjukkan diri-Nya sebagai pelayan. Bagaimana mungkin para murid-Nya berusaha menjadi besar supaya bisa dilayani?

Dalam injil, pelayan adalah hamba. Mereka itu adalah orang-orang tanpa hak. Yang dia miliki adalah kewajiban. Ia harus melayani tuannya kapanpun juga. Seorang budak tidak memiliki kuasa apapun bahkan atas hidupnya sendiri. Ia hidup demi tuan dan majikannya. Ia harus siap setiap saat untuk melaksanakan perintah tuannya. Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai hamba. Walaupun ia tahu betapa berat salib yanag harus dipikul-Nya, ia tetap membiarkan kehendak Bapa yang terjadi, bukan kehendak-Nya sendiri. Ketika datang ‘saat-Nya’, ia tidak melarikan diri, tetapi mengambil tanggung jawab itu.

Perdebatan kecil di antara para murid itu adalah juga gambaran untuk manusia zaman ini. Dunia zaman ini ditandai dengan berbagai bentuk persaingan untuk menjadi yang paling besar dan yang paling hebat. Ketika semangat ini tumbuh subur, maka dunia ini penuh dengan persaingan dan juga penindasan. Sebab semangat menjadi tuan adalah lawan dari semangat menjadi pelayan. Orang-orang yang mempunyai semangat ini cenderung lebih mengutamakan hak-haknya dibandingkan dengan kewajibannya, ia merasa memiliki kuasa atas hidup orang lain. Ia hidup demi dirinya sendiri. Ia menginginkan agar orang lain harus selalu taat pada perintahnya.

Apakah yang akan terjadi ketika banyak pengikut Kristus memiliki semangat seperti ini? Mungkin sangat sulit untuk membayangkannya. Yesus menegaskan bahwa Ia datang ke tengah dunia sebagai pelayan. Yesus tidak ingin para pengikut-Nya memiliki mentalitas tuan.

Bunda Maria adalah salah satu tokoh dalam Gereja yang telah menunjukkan teladan dalam melayani kehendak Tuhan. Ketika menerima kabar dari Malaikat bahwa ia akan mengandung Anak Allah, ia menyatakan kesediaanya dengan berkata: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (Luk, 1:38). Maria menyadari dirinya sebagai hamba Allah. Dan sebagai hamba Maria mau melaksanakan apa saja yang dikehendaki Allah dari padanya. Tentu saja Maria bisa menolak tugas yang sungguh berat itu. Tetapi karena Maria sadar bahwa dia memiliki Tuhan yang memiliki hak atas hidup-Nya, ia menyatakan kesediaannya.  

Ketika seseorang berani menjalankan tugas sebagai hamba, salah satu sikap yang dibutuhkan adalah ketabahan. Kisah-kisah dalam Kitab Suci menggambarkan bahwa hamba-hamba Allah senantiasa membutuhkan ketabahan dan keberanian agar tetap setia kepada Allah. Harus diakui bahwa jalan mengikuti Tuhan bukanlah suatu jalan lurus dan gampang-gampang saja. Jalan mengikuti Tuhan adalah sebuah jalan salib. Jalan salib adalah jalan yang berat. Berhadapan dengan jalan salib ini, ada banyak reaksi atau tanggapan yang timbul. Ada yang menjadi takut dan cemas. Ada pula yang melarikan diri. Mungkin hanya sedikit saja yang dengan penuh keberanian mengambil resiko untuk tetap berjalan. Karena itu, sikap ketabahan sebagai hamba dan pengikut Kristus sangat dibutuhkan. Orang yang tabah adalah orang yang kuat, teguh hati, dan pemberani. Ketabahan adalah lawan dari rasa takut dan pengecut.

Dengan ketabahan-Nya Yesus telah menunjukkan kekuatan salib. Dengan ketabahannya Maria mampu menjalankan tugasnya sebagai ibu bagi Yesus Kristus. Maka semua pengikut Kristus diajak untuk menjadi pelayan yang tabah dan berani mengikuti Yesus di dunia zaman ini.

Pada hari ini Gereja memperingati St. Yohanes I, Paus dan Martir. Perhitungan tahun masehi berasal dari Paus ini. Masa jabatannya kurang menguntungkan. Di Roma yang berkuasa kaisar Theodorik, seorang pengikut bidaah. Baginya Sri Paus menjadi bulan-bulanan. Atas perintahnya Yohanes I harus pergi ke Konstantinopel untuk menuntut kebebasan bagi aliran Arianisme dari kaisar di sana. Tetapi Yohanes kembali tanpa membawa hasil. Maka ia dibiarkan tewas kelaparan. Menjadi pelayan Tuhan adalah tugas yang tidak mudah. Namun, ketabahan senantiasa menumbuhkan kekuatan di dalam diri untuk tetap setia mewartakan nama Allah di dunia. Amin.

 

Fr. John Muga, O. Carm

Tanggal 17 Mei. Lukas 2:41-52

Posted on Posted in Uncategorized

Mengikuti Tuhan Dengan Salib

Peristiwa Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel merupakan suatu peristiwa yang penuh sukacita bagi dunia. Percakapan antara Malaikat dan Maria yang diakhiri dengan kesediaan Maria menjadi Bunda Yesus Kristus pastilah merupakan suatu percakapan yang sangat penting dalam sejarah umat manusia. Peristiwa itu menjadi penting karena ada seorang pribadi yang mau membuka hatinya untuk tugas istimewa itu. Ia memberikan dirinya menjadi pintu bagi rahmat Allah yang begitu besar untuk masuk ke dalam dunia.
Setelah menerima tugas itu, Maria pun menerima konsekuensi atas kesediaannya menjadi Bunda Yesus. Pada awal Maria belum mengetahui apa yang terkandung dalam jawabannya itu. Tetapi lambat laun ia mengerti akan derita yang harus ditanggungnya dalam tugas keibuannya. Ketika ia memersembahkan bayi Yesus di Bait Allah, ia disadarkan oleh ramalan Simeon: “sesungguhnya anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembusi jiwamu sendiri” (Luk, 2:34-35). Maria mulai menyadari bahwa dia akan mengambil bagian dalam penderitaan yang dialami oleh Putranya itu.
Maria juga harus menanggung derita karena tugasnya sebagai seorang ibu. Peristiwa Yesus yang menghilang di Bait Allah menimbulkan kecemasan di dalam hatinya: “Nak, mengapa engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapamu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”(Luk,2:48). Bisa dirasakan juga bagaimana kecemasan dan ketakutan yang dialami Maria ketika menerima berita bahwa Herodes akan membunuh semua bayi yang berumur dua tahun ke bawah. Mereka lalu menyingkir ke Mesir.
Lambat laun, sejalan dengan kejadian demi kejadian yang dialaminya, Maria mulai mengerti akan derita yang harus ditanggungnya. Peristiwa salib adalah peristiwa yang amat menyakitkan bukan hanya bagi Yesus, tetapi juga bagi Maria. Ia harus menyaksikan sendiri Putranya mengalami penyiksaan dari para algojo yang bengis. Saat itulah Maria mengambil juga derita yang dialami Putranya.
Kita akan menemukan hal yang sangat kontras antara kesetiaan yang ditunjukkan oleh Maria dengan kesetiaan para murid Yesus. Sebagai orang yang mengenal Yesus dan hidup bersama-Nya, para murid melakukan tindakan yang sebaliknya. Hal ini nyata dalam peristiwa penangkapan Yesus oleh para algojo di taman Getsemani. Yesus yang hendak memulai masa sengsaranya ditinggalkan begitu saja oleh para murid. Mereka masing-masing melarikan diri dan tidak mau mengambil bagian dalam penderitaan Yesus. Bahkan Petrus yang pernah dipercayakan oleh Yesus untuk memegang kunci Kerajaan Surga (Mat 16:13-20), justru menyangkal Yesus demi kenyamanan pribadi. Padahal Yesus pernah bersabda kepada mereka semua: “setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk, 9:23). Tetapi para murid itu tidak mampu menyangkal dirinya sendiri. Mereka lebih memikirkan ego mereka masing-masing yakni keselamatan diri. Petrus tidak menyangkal dirinya sendiri, tetapi menyangkal Yesus. Mereka tidak mau memilkul salib mereka: mengambil bagian dalam salib Yesus. Hanya Rasul Yohanes seorang yang berjalan bersama Maria dan menyaksikan sendiri bagaimana Guru yang sangat dikasihi dan dikaguminya mendapat perlakuan yang kejam dari para algojo.
Dari gambaran tentang kesetiaan dalam mengikuti Yesus, setiap orang Kristiani mestinya terpikat dengan sosok yang amat sederhana yakni Bunda Maria. Harus diakui bahwa Bunda Maria telah memberikan teladan yang amat baik bagi pengikut Kristus sepanjang zaman bagaimana seharusnya menjadi pengikut Kristus yang sejati. Ia telah mengambil bagian dalam kesengsaraan Kristus. Sebagai seorang ibu, Maria pastinya turut merasakan penderitaan bersama Putranya. Kesedihan dan dukacita pasti memenuhi hatinya sepanjang jalan salib itu.
Zaman ini adalah zaman yang penuh tantangan bagi setiap umat Kristiani. Kemajuan zaman membuat semakin banyak orang terjebak dalam pencarian akan kesenangan dan kenikmatan dunia. ‘hidup ini hanya sementara,. Karena itu renggutlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi masih ada kesempatan’. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali orang Kristiani yang terjebak dalam gaya hidup seperti ini. Karena itu, mengikuti Kristus pada zaman ini adalah suatu tantangan yang sangat berat. Di satu sisi, dunia memberikan tawaran yang menggiurkan, tetapi di sisi lain Yesus menuntut penyangkalan diri dan penerimaan salib. Manusia zaman ini cenderung untuk mencari aman, tetapi Yesus mengajarkan para pengikutnya untuk berani masuk dala zona yang kurang nyaman seperti domba yang masuk dalam kumpulan serigala.
Di jalan salib itu, Maria memberikan teladan kepada setiap pengikut Kristus. Ia mengajarkan semua pengikut Kristus untuk berani menanggung segala yang harus dipikul oleh Pengikut Kristus. Ketika Yesus meminta para pengikutnya menyangkal diri, ia harus menyangkal diri. Ketika Yesus meminta para pengikutnya memanggul salib, maka ia harus memanggul salib. Ia harus mengambil bagian dalam penderitaan Yesus. Salib adalah tanda yang akan selalu melekat dalam diri setiap orang Kristiani. Siapapun yang menolak salib, ia tidak layak mengikuti Kristus. St. Yohanes dari Salib pernah menasihati bahwa orang tidak bisa mengikuti Yesus tanpa salib. Dan sungguh Bunda Maria telah memberikan contoh yang amat baik untuk para pengikut Kristus. Marilah kita mengikuti Kristus bersama Bunda Maria.

Fr. John Muga, O. Carm

Tanggal 14 Mei. Pesta St. Matias, Rasul Bacaan Kitab Suci: Markus 6: 45-52.

Posted on Posted in Uncategorized

Iman Yang Melenyapkan Ketakutan

Siapakah di antara kita yang senang jika ia menderita sakit? Saya yakin tidak seorang pun dari kita yang ingin sakit, bahkan sakit yang paling ringan sekalipun. Kalau seseorang sakit, pastilah segala aktivitasnya terganggu, bukan hanya dirinya yang terganggu tetapi orang lain bisa turut serta direpotkan. Misalnya jika yang sakit adalah salah satu anggota keluarga, pasti anggota yang lainnya pun turut direpotkan. Ada yang harus menghantar ke rumah sakit, keluarkan uang, memasak makanan khusus dan lain sebagainya. Tetapi ada juga orang yang pura-pura sakit hanya untuk memperoleh perhatian dan belaskasihan dari orang lain. Namun sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang menyukai sakit, betah sakit, apalagi hobi dengan sakit. Cara apa pun akan dilakukan seseorang agar terhindar dan sembuh dari sakit bahkan cara yang tidak masuk akal pun kadangkala dilakukan demi memperoleh penyembuhan.

Kalau orang yang mempunyai kemampuan finansial yang memadai pasti akan mengeluarkan uang sebesar apapun untuk memperoleh kesembuhan. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak mampu apalagi kalau tidak ada yang menolong? Orang seperti itu bisa kita temukan di tepi kolam Betesda sekitar dua ribu tahun yang lalu. Keampuhan kolam ini memang tidak diragukan lagi oleh orang Israel zaman itu. Tak heran banyak orang sakit berduyun-duyun dibawa kolam itu untuk disembuhkan. Kitab Suci mencatat bahwa sewaktu-waktu malaikat Tuhan turun ke kolam itu dan menggoncangkan airnya dan barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan itu menjadi sembuh, apapun penyakitnya. Mengingat kedatangan malaikat hanya sewaktu-waktu dan hanya yang terdahulu masuk yang akan sembuh, maka “peristiwa penyembuhan” menjadi sangat terbatas. Kita bisa membayangkan bagaimana orang berdesak-desakkan dan saling mendahului ketika air itu bergoncang. Orang yang kalah cepat pasti akan kecewa dan harus menunggu lagi saat lain ketika malaikat Tuhan itu turun. Oleh karena itu, di sekitar kolam ada serambi-serambi yang dipakai sebagai rumah singgah sementara sebelum mereka berjuang masuk kolam. Hal yang sama dialami oleh seorang yang sudah tigapuluh delapan tahun sakit. Injil Yohanes tidak mengungkapkan secara jelas sudah berapa lama ia berada di kolam itu dan apa jenis sakitnya. Namun yang jelas bahwa sakit yang ia derita itu membuatnya begitu menderita. Kita mungkin bisa membayangkan mungkin orang tersebut sudah putus asa dan sudah tidak lagi memikirkan kesembuhan. Kesembuhan itu merupakan “mimpi di siang bolong” baginya. Tetapi kalau kita melihat jawabannya terhadap pertanyaan Yesus, jelas menunjukkan bahwa orang tersebut punya harapan akan kesembuhan yang sangat besar dan ia tidak putus asa untuk harapan tersebut. Akhirnya Yesus datang menyembuhkannya. Sesudah itu Yesus memberi pesan kepadanya: “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”.

Iman orang yang sakit selama tigapuluh delapan tahun itu telah menyelamatkannya. Iman secara harafiah berarti, “memberikan, menyerah atau berkomitmen”. Iman adalah kepercayaan yang sepenuhnya. Mungkin kita tidak lumpuh secara fisik, tetapi ada kemungkinan lumpuh secara psikologis atau spiritual, maka baiklah kita memohon rahmat penyembuhan dari Tuhan melalui saudara-saudari kita. Jika kita telah memperoleh kesembuhan, hendaknya hidup secara penuh syukur dan terima kasih, dan secara konkrit berusaha tidak melakukan aneka perbuatan yang membuat kita sakit atau lumpuh. Sehat dan sakit erat kaitannya dengan beriman dan tidak beriman. Kita juga diingatkan bahwa tidak perlu takut dan gentar ketika harus melanggar tata tertib buatan manusia, asal apa yang kita lakukan lebih dari tata tertib tersebut, yaitu demi keselamatan jiwa manusia.

Hal itu pula yang dialami oleh Santo Matias Rasul yang kita peringati pada hari ini. Setelah memperoleh penyembuhan dari sakit spiritualnya, ia benar-benar membuka diri pada Kristus dan Kerajaan-Nya. Ia menyerahkan harta miliknya yang telah dikumpulkan selama hidupnya bagi orang-orang miskin yang selama ini telah diperlakukannya secara tidak adil. Bahkan kemudian Ia dimasukkan dalam kelompok duabelas Rasul untuk menggantikan posisi Yudas. Ia sudah termasuk kelompok sahabat-sahabat yang mengitari Yesus dan yang terbuka terhadap kabar baik. Dari Yesus sendiri, ia menerima sesuatu yang didengarnya dari Bapa.

Iman yang mendalam akan Yesus Kristus itu telah “membangkitkan” orang yang sakit selama tigapuluh delapan tahun dan Santo Matias. Dari dua kisah ini, kita menyaksikan bahwa kuasa Yesus itu mengatasi yang fisik dan yang spiritual. Kesembuhan yang kita peroleh dari-Nya adalah kesembuhan yang sempurna, jiwa dan raga. Asalkan kita mau berserah pada-Nya.

Ketidakmampuan untuk sepenuhnya memahami misteri Allah dalam banyak hal tidak membatasi iman kita. Sebaliknya, hal itu akan memperkaya kepercayaan kita. Kita tidak mengerti pola yang rumit dari bintang-bintang yang bergerak pada jalurnya, tetapi kita tahu bahwa Dia yang menciptakan-Nya mengerti semuanya itu, dan karena yakin bahwa Allah yang mengaturnya, maka Dia yang merencanakan jalur keselamatan kita. 

Maria adalah satu-satunya manusia yang paling memahami kehendak Allah. Keterbukaan hatinya pada kehendak Allah membuat Allah menyatakan diri seutuhnya melalui Maria. Maria menunjukkan kepada kita umat Kristiani bahwa orang yang kuat dalam iman akan bertumbuh ketika mereka menerima apa pun yang Allah izinkan memasuki kehidupan mereka. Melalui fiatnya, Maria memulai peziarahan imannya yang mendalam akan kehendak Allah sampai harus menyaksikan betapa kejinya kematian Sang Putra di Kayu Salib. Maria mengajarkan kepada kita umat beriman bahwa sengsara, cobaan, kesusahan, sakit bukanlah sesuatu yang harus membuat kita jauh dari Tuhan. Justru melalui semuanya itu, Tuhan mau menyatakan diri-Nya. Iman tidak berpura-pura seolah-olah kita tidak memiliki masalah. Iman juga bukan sekadar optimisme buta. Iman menunjuk melampaui persoalan-persoalan kita kepada pengharapan yang kita miliki di dalam Kristus.

Berdoalah senantiasa bersama Maria. Mohonkanlah rahmat iman dari Tuhan agar kita semua sanggup membuka diri pada penyelenggaraan Ilahi. Ingatlah bahwa matahari tetap bersinar meskipun kabut tebal melanda dunia. Amin.

 

Fr. Fransisko F. Wutun, O.Carm

Tanggal 11 Mei. Bacaan Kitab Suci: Yohanes 2:1-11

Posted on Posted in Uncategorized

Bunda Penolong

Untuk memulai permenungan tentang Maria, saya mau memulainya dengan sebuah kisah nyata yang terjadi  di Kabupaten Flores Timur-Larantuka. Bencana alam yang terjadi dengan tiba-tiba pada waktu itu menelan banyak korban. Penduduk di kota itu mengalami banyak kehilangan. Dari kehilangan rumah, harta kekayaan bahkan kehilangan sanak saudara. Lantas, apa yang terjadi selanjutnnya dengan kisah ini. seorang anak usia balita terseret banjir ke pantai bahkan hingga ke laut. Beberapa hari kemudian tim SAR gabungan berusaha mencari korban yang hilang di seluruh wilayah yang terkena bencana alam. Mereka menemukan seorang anak yang terkapar di bibir pantai. Tim SAR dengan penuh semangat menolong anak itu dan mengantarnya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Tim medis pun segera mengambil tindakan untuk menolong serta merawat anak itu. Orang tua dari anak itu sudah berhari-hari mencari anak itu, namun belum ditemukan. Mereka berpikir bahwa anak itu sudah meninggal. Mereka hanya mampu berpasrah pada yang kuasa. Namun tiba-tiba tersiar berita bahwa telah ditemukan seorang anak usia balita di bibir pantai. Anak itu masih dalam perawatan di rumah sakit. Sesegera mungkin kedua orang tua itu langsung menuju rumah sakit untuk memastikan apakah berita yang disampaikan itu merupakan kenyataan atau bukan.

Setibanya di rumah sakit, kedua orang tua itu tak mampu menahan tangis karena terharu melihat anak mereka yang masih hidup. Mereka seolah-olah tidak percaya dengan apa yang sedang mereka alami saat itu. Setelah keadaan anak itu pulih kedua orang tua itu pun kembali ke rumahnya. Mereka merasa bahwa keselamatan anak itu terjadi berkat pertolongan Bunda Maria. Oleh karena itu mereka berkunjung ke sebuah Kapela di kota itu sembari berdoa mengucapkan syukur atas keselamatan anak itu. Ketika mereka memasuki ruangan kapela secara spontan anak itu berkata kepada kedua orang tuanya, “ibu itu yang menolong  saya” sambil menunjuk patung Bunda Maria yang terletak di pojok kapela itu. Saat itu juga, orang tua dari anak itu mengerti bahwa sebenarnya Bunda Maria-lah yang  menyelamatkan dan menolong anak itu. Kemudian kedua orang tua itu berjanji untuk mempersembahkan anak itu kepada Tuhan.

Bunda Maria adalah bunda penolong bagi semua orang beriman. Kisah di atas ini mau menggambarkan peran Bunda Maria sebagai bunda penolong abadi. Bunda Maria menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan, yang sedang dalam persoalan. Bunda Maria adalah bunda yang penuh dengan rahmat Allah.Rahmat Allah melimpah atas dirinya, sehingga segala permohonannya diperhatikan oleh Allah dan karena belaskasih-Nya Allah mengabulkan semua permohonan yang disampaikan oleh Bunda Maria. Namun Bunda Maria dengan segala kerendahan hatinya tidak mau memanfaatkan semua yang diberikan Allah itu secara instan. Justru ia tetap memohon kepada Allah apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang mengalami kekurangan atau orang yang mengalami musibah.

Kehadiran Maria pada pesta pernikahan itu merupakan anugerah terindah bagi tuan pesta. Andai saja pada kesempatan berahmat itu Maria dan Yesus tidak menghadiri pesta. Tentu saja tuan pesta menanggung segala rasa malu. Tetapi karena Maria dan Yesus turut hadir dalam pesta itu segala kekurangan dapat diatasi. Saya yakin bahwa kedua mempelai itu juga sangat bahagia dengan perayaan tersebut. Bukan hanya itu, semua undangan yang hadir pun sangat bahagia sekaligus bangga dengan tuan pesta karena pestanya berlangsung meriah dan sukses. Mereka pasti menerima banjir pujian dari para tamu. Bahkan mungkin sampai beberapa lama pestanya masih diperbincangkan karena berbeda dengan yang lazim diadakan. Seperti yang dikatakan pemimpin pesta, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Mempelai di Kana menikmati semua itu, tanpa ikut merasakan kepanikan dan ketegangan saat anggur habis ditengah-tengah pesta, tanpa turut memikirkan dan mencari jalan keluarnya. Tapi kemudian menerima kemuliaan karena mujizat yang diterima dengan cuma-cuma seperti sebuah hadiah yang tak pernah dimintanya.

Siapakah yang berperan sangat penting dalam mengatasi semua persoalan? Tentu saja jawaban yang diberikan selalu berbeda-beda. Antara Maria, Yesus, para pelayan dan tuan pesta memiliki perannya masing-masing. Karena tanpa mereka ini, pesta tersebut tidak akan berjalan lancar. Saat yang demikian mendesak menuntut tuan pesta untuk percaya dan menuntut para pelayan untuk taat terhadap perintah. Para pelayan taat pada perintah Yesus. Sikap taat yang diambil oleh para pelayan memiliki konsekuensi dan menanggung banyak resiko. Konsekuensi itu ditanggung oleh tuan pesta sebagai orang yang bertanggung jawab dalam perayaan itu seandainya mukjizat itu tidak terjadi. Namun Maria tahu apa yang dibutuhkan saat itu. Maria memberikan pertolongan kepada tuan pesta dengan menyampaikan kepada Yesus, “mereka kehabisan anggur”. Maria tidak peduli dengan apa yang dikatakan Yesus, “mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu?”. Justru Maria meneguhkan kembali para pelayan, “apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!”. Maria tidak saja memberi pertolongan kepada tuan pesta yang kehabisan anggur tetapi ia meneguhkan para pelayan yang barangkali pada saat itu mengalami kecemasan bahkan belum percaya dengan ucapan Maria.

Apa yang dialami mempelai di Kana sangat mungkin kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita hidup pada zaman modern. Gaya hidup pun semakin sekular. Sikap hedonisme, sekularisme, konsumerisme terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Dan semakin modernya hidup seseorang, gaya hidup pun semakin berubah. Hal ini membuat kita juga mengalami kehabisan anggur seperti tuan pesta di Kana. Kita akan kehabisan anggur kasih sayang, perhatian kepada sesama, kebersamaan dalam komunitas, keluarga dan masyarakat. Kehabisan “anggur-anggur” ini mengantar kita pada suatu sikap individualistik, egoisme dan pada akhirnya pencarian kita akan anggur kehidupan tidak pernah kita temukan. Tentu saja, setelah pencarian tanpa akhir itu, perasaan tidak dicintai akan selalu menghantui hidup kita. Kita akan mengalami frustrasi dalam hidup. Kepada siapakah kita akan berlari? Di manakah tempat untuk berpijak yang paling aman dan nyaman? Jawaban yang masih tetap aktual bagi kita yang mengalami hal ini ialah bersandarlah kepada Maria. Ia mampu memberikan pertolongan. Ia akan memberikan kekuatan kepada kita. Yang dituntut dari kita ialah sikap rendah hati dan taat. Bersikap rendah hati untuk memohon pertolongannya dan taat untuk menjalankan perintah-perintah Tuhan.

Fr. Sonobius Rua, O. Carm

Tanggal 9 Mei, Bacaan Kitab Suci: Lukas 2:41-52

Posted on Posted in Uncategorized

Keheningan Yang Berbuah

Menyimpan perkara di dalam hati. Ini adalah sikap Bunda Maria yang sederhana, namun artinya sangat dalam, dan hal ini bukanlah hal yang mudah untuk kita tiru. Mungkin sikap Bunda Maria yang tenang dan hening ini menyebabkan hanya sedikit bagian dari Injil yang menyebutkan dan menceritakan tentang dirinya. Padahal jika kita renungkan: betapa besar peran Bunda Maria dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah pada kita. Oleh kesediaannya, Yesus Putera Allah berkenan menjelma menjadi janin di dalam kandungannya, dan kemudian lahir sebagai manusia. Terpikirkah oleh kita, bahwa tanpa persetujuan Maria, Yesus tidak jadi lahir ke dunia pada saat itu?

Injil menceritakan tentang Bunda Maria, pertama-tama pada saat Malaikat Gabriel mengunjunginya dan memberitakan kelahiran Yesus (Luk 1: 26-38). Tak lama kemudian Bunda Maria mengunjungi Elizabeth saudaranya, yang menyebutnya sebagai ‘Ibu Tuhanku’ (Luk 1:43). Perkataan Bunda Maria yang terpanjang tertulis dalam Injil sebagai nyanyian pujian kepada Tuhan, ‘Magnificat’ (Luk 1:46-55). Injil kemudian mencatat kelahiran Yesus. Saat para gembala dan para malaikat menyembah Yesus Sang Putera yang dilahirkan di kandang Betlehem (lih. Luk 2:19), di sanalah pertama kali kita membaca, bahwa Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk 2:51). Mungkin hati Maria juga tak berhenti merenungkan nubuat Simeon tentang Yesus dan dirinya (Luk 2:34-35). Injil juga mencatat bahwa kedua kalinya Maria ‘menyimpan semua perkara di dalam hatinya’ saat ia dan Yusuf suaminya menemukan Yesus kembali di Bait Allah, pada saat Ia berumur 12 tahun (Luk 2:51). Pastilah, Maria terus ‘menyimpan segala perkara’ di dalam hatinya, sampai ia dapat tegak berdiri di kaki salib Yesus, mempersembahkan buah hatinya demi memenuhi rencana keselamatan Allah Bapa.

Jika kita renungkan, ‘menyimpan perkara di dalam hati’, kita akan mengakui bahwa hal ‘menyimpan perkara’ adalah sesuatu yang gampang-gampang susah. Di dunia ini, kita seolah-olah terbiasa dengan segala sesuatu yang ‘go public’, segala sesuatunya diumumkan, entah benar atau tidak, itu urusan belakangan. Contoh umum, lihatlah betapa menjamurnya tabloid dan majalah yang menceriterakan kehidupan tokoh-tokoh publik. Keberadaan aneka majalah tersebut adalah gambaran bahwa ada banyak orang menyukai berita-berita semacam itu. Kalau kita lihat ke dalam diri kita sendiri dan lingkungan kita, kita juga akan dapat menemukan contoh lainnya, yaitu: betapa mudahnya untuk membicarakan orang lain, (terutama kekurangan mereka) dan betapa sulitnya untuk menyimpan segala perkara di dalam hati. Betapa mudahnya menceritakan diri sendiri, terutama jika itu kita pandang baik, dan betapa sulitnya untuk diam, dan menyimpan segala sesuatu di dalam hati.

Mari kita tengok bersama: jika kita menghadapi masalah yang berat, apakah yang pertama dan utama kita lakukan? Curhat pada Tuhan atau curhat pada sahabat? Kita cenderung lebih dapat ‘bongkar muat’ isi hati pada teman, daripada kepada Tuhan. Dunia sekeliling kita memang tidak ‘berteman’ pada keheningan. Hari-hari kitapun diisi dengan kesibukan dari pagi sampai malam, dari urusan pekerjaan di kantor, perusahaan, sampai pada urusan rutinitas di komunitas keluarga kita, arisan, menyusun rencana anggaran keluarga, ngobrol sana-sini dengan teman-teman, atau bermain kartu, mungkin juga nonton TV saat rekreasi. Betapa sedikitnya waktu yang kita habiskan bersama Tuhan. Betapa singkat waktu yang kita lalui dalam keheningan bersama Allah. Kalau kita bermeditasi, itu pun sekedar rutinitas belaka yang mau tak mau harus dilalui, bukan sebagai kebutuhan. Betapa sulit bagi kita untuk kembali ke dalam hati kita sendiri, dan menemukan Tuhan di sana. Kita perlu belajar dari Bunda Maria yang menyimpan segala perkara di dalam hati.

Mari kita bayangkan pergumulan di hati Bunda Maria, saat ia menjawab “Ya” pada rencana Allah. Ia pada saat itu sudah bertunangan dengan Yusuf, mungkin mereka sedang merencanakan pernikahan. Walaupun demikian, Bunda Maria menyerahkan diri seutuhnya pada rencana Allah. Bunda Maria tidak lagi memikirkan rencananya sendiri. Imannya mengalahkan segala kekuatirannya: bagaimana caranya memberitahukan kabar malaikat kepada orang tuanya, bagaimana nanti reaksi Yusuf tunangannya, bagaimana nanti jika ia digosipkan oleh orang-orang sekampung, dan bahkan, bagaimana jika ia dituduh berzinah dan dapat dijatuhi hukuman rajam?

Sejak awal kita mengetahui, ‘menyimpan segala perkara di dalam hati’ telah menjadi bagian dari sikap Bunda Maria. Ia tidak banyak bicara, tidak pula berusaha menjelaskan segala sesuatu pada Yusuf. Ia membiarkan Allah sendiri menjelaskan kepada Yusuf lewat mimpi. Selanjutnya, kejadian demi kejadian membentuk Bunda Maria untuk menimba kekuatan hanya di dalam Tuhan: saat ia harus melahirkan Yesus di kandang hewan karena tak ada yang mau memberikan tempat baginya dan Yusuf; saat ia melihat kemuliaan Tuhan di dalam kemiskinan yang ekstrim; saat para malaikat dan para gembala menyembah bayi Yesus; saat ia mendengar nubuat Simeon, akan penderitaan yang harus dialaminya; saat ia bersama Yusuf dan bayi Yesus harus mengungsi ke Mesir. Maria menyimpan perkara di dalam hatinya, juga saat hari demi hari ia melihat Yesus bertambah besar… Ya, betapa Maria menyadari, bahwa meskipun Yesus adalah anaknya, namun Yesus tidaklah menjadi ‘milik’nya. Hari demi hari Maria melihat Tuhan yang Maha Besar mau merendahkan diri dan mau tinggal bersamanya sebagai anak yang menghormatinya. Ia adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, dan tinggal satu atap dengannya. Kehidupan Maria adalah permenungan tanpa henti akan Sabda Tuhan yang hidup!

Mari kita tengok kehidupan kita, sudahkah kita belajar untuk menyimpan segala perkara di dalam hati kita? Apakah kita lebih cenderung untuk menceritakan problem kita kepada teman, ataukah kepada Tuhan? Sadarkah kita bahwa Allah menunggu kita agar kita menemui Dia di dalam hati kita? Mungkin sudah saatnya kita belajar untuk mengurangi pembicaraan tentang diri sendiri dan orang lain, dan menambah pembicaraan untuk kemuliaan Tuhan. Sudah saatnya bagi kita untuk mengurangi curhat kepada banyak orang dan menambah usaha untuk mencurahkan isi hati kepada Tuhan yang ada di dalam hati kita. Betapa lebih baik bagi kita untuk mengandalkan Sabda Tuhan daripada pendapat kita sendiri. Ya, saat kita kembali kepada Tuhan, di sanalah kita akan menemukan kekuatan dan penghiburan yang tak dapat kita dapatkan dari siapapun. Mari kita belajar dari Bunda Maria, untuk menyimpan segala perkara di dalam hati. Dengan iman mari kita yakini, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” (Fil 4:13). Bunda Maria, doakanlah kami, agar dapat meniru teladanmu, untuk selalu kembali kepada Tuhan yang hadir di dalam hati kami, dan menimba kekuatan daripadaNya.

Fr.Emanuel Yoseph Sungga, O. Carm

 

Tanggal 8 Mei. Matius 21:33-44. Peringatan Aloysius Rabata

Posted on Posted in Uncategorized

Bercermin Diri PadaBunda Maria

Dalam perjalanan iman kekristenan kita, Bunda Maria semakin disadari tidak hanya menjadi ibu dan pelindung, tetapi juga menjadi teladan dalam beriman kepada Yesus dan Allah. Demikian pula kemuliaan Bunda Maria di surga merupakan kemuliaan  yang ditawarkan Allah kepada kita anak-anakNya.

Ada sebuah cerita menarik. Pada suatu hari seorang anak gadis, yang namanya Sinta menulis dan mengirim surat kepada mamanya yang bernama Sindy: “Ibuku tercinta, tidak lama lagi saya akan berulang tahun ke-18. Saya ingin punya cermin untuk meja rias saya.”  Kemudian mamanya membalas surat anaknya: “Anakku sayang, ibu akan mengirim cermin yang kau minta, saya malah mengirim 3 buah cermin. Dalam cermin pertama, engkau akan melihat dirimu sendiri apa adanya. Dalam cermin kedua, engkau akan melihat akan menjadi seperti apa engkau nanti. Dan pada cermin ketiga, engkau semestinya harus menjadi bagaimana.

            Tak lama kemudian paket cermin dari ibu Sindy tiba di alamat Sinta. Setelah menerima kotak itu Sinta cepat-cepat masuk ke kamarnya untuk membuka paket kiriman ibunya. Dalam cermin pertama, dia melihat dirinya apa adanya. Dalam cermin kedua dia menemukan gambar tengkorak, bahwa pada akhirnya dia akan seperti itu. Sedang dalam cermin ketiga dia menemukan gambar Bunda Maria yang amat cantik, manis dan lemah lembut. Sinta lalu berpikir: “seperti inikah aku harus menjadi, alangkah bahagiaku menerima rahmat Allah seperti Bunda Maria itu.” 

Hampir setiap perempuan ingin tampil cantik dan prima. Badan sehat segar bugar, wajah cerah merekah, hati dan jiwa seimbang, pekerjaan beres, hidup rohani bagus, relasi dengan sesama juga berjalan dengan baik. Betapa indahnya bila perempuan mempunyai kepribadian seperti ini.

            Pertanyaan buat kita apakah kita sebagai perempuan juga ingin tampil cantik dan prima dihadapan orang lain? Ingat, kecantikan fisik seseorang merupakan intisari hidup orang tersebut. Cantik berarti memiliki rasa nyaman dalam kehidupan. Disebut cantik berarti mendapat perhatian. Siapakah yang tak ingin mendapat perhatian dari orang lain terutama lawan jenis? Kata cantik memiliki beberapa kesamaan kata: misalnya imut, cerdas, elok, tampan, seksi, dan segala hal yang mengacu pada keindahan seseorang. Tidak peduli seberapa cantiknya atau tampannya, sebagai kaum perempuan maupun pria, saya dan Anda juga butuh sesuatu yang membuat kita tampak cerdas, punya intelek, dan penuh pesona. 

Kecantikan terbesar yang patut menjadi acuan kita kali ini adalah berkaitan dengan pengampunan dan saling memaafkan.  Ketika kita sudah mampu melakukan hal kecil dan sederhana tersebut, dengan sendirinya kecantikan itu akan tampak.

Hari ini juga seluruh Gereja merayakan peringatan fakultatif seorang kudus Karmel Beato Aloysius Rabata, seorang imam yang dilahirkan di Erice,Trapani, Sisilia menjelang abad XV, yang kemudian masuk Ordo Karmel. Menjadi prior biara yang melakukan banyak pembaharuan di Randazzo dan meninggal di sana setelah mendapat cedera berat pada kepalanya akibat penganiayaan seorang penjahat. Penjahat itu diampuni dan sama sekali dia tidak mau memberitahukan namanya. Hal demikian menjadi tampak bahwa Alysius Rabata menjadi cantik di hadapan Allah dan sesama. Ia tidak menghendaki segala amal dalam pengampunan dan memaafkan ini ditampakkan bagi khalayak umum. Seluruh perbuatan yang dilakukan olehnya semata-mata sebagai persembahan khusus untuk Allah, hadiah yang diberikannya hanya untuk menyenangkan Allah. Tidak timbul sedikitpun rasa kecewa ataupun dendam terhadap si penjahat. Ia menghendaki kasih yang diberikan olehnya menjadi buah terindah untuk orang lain supaya mampu dipelajari. Ia ingin membuktikan bahwa pengampunan dan saling memaafkan tidak hanya sekedar omong kosong semata, melainkan bisa dilakukan demi keperluan untuk bisa bercermin diri.

Maria menjadi cermin dan boleh dipadankan sebagai cermin untuk Beato Aloysius Rabata, pribadi yang seimbang dan sempurna. Ia tidak hanya cantik secara lahiriah, melainkan juga cantik secara batiniah. Akhirnya, ia mampu melambungkan kidung Pujian kepada Tuhan penyelamat. Kecantikkannya sungguh-sungguh ia persembahkan kepada Allah dan kemuliaan-Nya. Maka dari itu kalau kita ingin sehat, janganlah hanya secara jasmani saja; dan kalau kita ingin cantik dan tampan hendaknya bukan hanya terkesan secara lahiriah saja tetapi terutama secara batin. Karena tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, di mana Allah sendiri yang setia tinggal dalam batin kita. Kita masih harus punya banyak waktu untuk bercermin diri pada kecantikan dan keindahan Bunda Maria lahir dan batin yang dapat kita wujudkan melalui doa-doa dan perbuatan- perbuatan baik kita untuk kemuliaan Allah dan kebahagiaan sesama.

Apa maknanya bagi kita pada zaman ini? Pertama, kalau kita sadar dan pandai merenungkan cerita ini secara mendalam, maka kita dapat merasakan bahwa sesungguhnya Tuhan Allah itu murah hati dan penuh belaskasihan kepada kita umatNya. Mengapa?Karena Ia telah memberikan banyak hal yang baik untuk dikelola sehingga hidup kita berbuah melimpah. Ia menginginkan agar semua manusia selamat dan bahagia.

Kedua, Hidup setiap orang adalah sebuah kebun anggur yang telah dibangun oleh Allah, sebuah perusahaan besar yang didirikan oleh Allah dan setiap orang yang hidup di dalamnya diangkat menjadi manajer atas dirinya, guna mengelola hidupnya agar  menghasilkan banyak buah kebaikan dan cinta kasih. Pemegang saham hidup kita adalah  Allah. Sesewaktu, Ia pasti datang untuk menagih hasil investasinya, menagih hasil pekerjaan kita, menagih buah dari hidup kita masing- masing.

Pertanyaannya adalah Apakah pada saat Tuhan datang, kita dengan hati senang dan penuh suka cita menyerahkan seluruh hasil pekerjaan baik kita?  Ataukah kita malah membenarkan pepatah ini: air susu dibalas dengan air tuba? (Kebaikan dibalas dengan kejahatan).Atau kita lebih membenarkan diri kalau air tuba dibalas dengan air tuba. Dan apakah kelompok Farisi dan ahli Taurat masih tetap ada hingga saat ini? Ingatlah bahwa jawaban kita sangat menentukan kualitas kita sendiri.Manakala  jika kasih dan kemurahan hati Allah, kita manipulasi; jika perhatian dan kebaikan sesama, kita balas dengan kejahatan, ataupun sebaliknya kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita dibalas dengan kejahatan; mulai ada dendam, mulai ada kemarahan, ada rasa dengki dan rasa persaudaraan itu menjadi hilang. Oleh karena itu, sungguh jelas kita termasuk kelompok- kelompok penggarap yang jahat dalam kebun anggur kehidupan kita. Kita termasuk orang yang gagal dalam mengelola hidup kita, kita menjadi tidak tenang dan tidak mengalami damai sejahtera dalam hidup kita sendiri bersama dengan orang lain. Kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak tahu membalas budi baik Tuhan dan sesama. Tak mengherankan kalau kemudian Kerajaan Allah akan diambil dari dalam diri dan kehidupan kita dan diberikan kepada orang lain yang amat merindukan dan membutuhkannya.

Sebagai insan beriman yang sadar, kita semua diajak untuk kembali bertobat. Dengan memilih jalan pertobatan sebetulnya kita tak perlu khawatir dan tetap optimis. Hal inilah sangat disadari oleh rasul Paulus yang kemudian dalam suratnya kepada umatnya di Filipi menegaskan: ”Saudara-saudara, janganlah hendaknya kamu kuatir akan apa pun, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur……..”( Flp 4: 6).

Untuk itu kita harus berani, kita harus berani melepaskan masa lalu kita sebagai yang paling jauh (yang penuh dengan kejahatan dan dosa)  dan kembali mencoba untuk memulai hal yang baik mulai hari ini dan besok, memikirkan dan melakukan bahkan bercermin pada sikap ibu Maria:semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji oleh Allah dan sesama manusia. Maka Allah, sumber damai sejahtera akan menyertai kita. Amin.

Fr. Emanuel Yoseph Sungga, O. Carm

 

Tanggal 7 Mei 2018. Kis. 2:41-47. Penghayatan Ekaristi Yang Baik

Posted on Posted in Uncategorized

Maria teladan dalam menghayati Ekaristi

Sebagai anggota Gereja Katolik, kita yang menamakan diri sebagai para pengikut Yesus harus selalu bersyukur akan kehadiran pribadi Bunda Maria dalam perjalanan iman di tengah dunia ini. Mengapa? Karena Maria telah melahirkan Putra Allah ke dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa dan kematian. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh kehidupan yang baru. Asal saja Yesus selalu menjadi dasar dan tujuan hidup. Di samping itu, Maria juga telah menghadirkan pribadi Yesus yang telah memberikan diri seutuhnya bagi umat manusia yang dilambangkan dalam rupa roti dan anggur dalam setiap perayaan Ekristi yang dirayakan dari masa ke masa sampai saat ini. Dalam kehidupannya pun, Maria telah menujukkan bagaimana setiap umat beriman harus menghayati Ekaristi yang adalah puncak dan kehidupan umat beriman dengan baik.

Dalam Ensikliknya Ecclesia de Eucharistia (Ekaristi dan hubugannya dengan Gereja), Paus Yohanes Paulus II menekankan kaitan yang sangat erat akan pribadi Maria dengan Ekaristi. Bab 6 dari Ensiklik ini berjudul “Sekolah Maria, Wanita Ekaristi”. Di sana Paus menekankan bahwa “Apabila kita ingin menemukan kembali seluruh kekayaan kedalaman hubungan Gereja dengan Ekaristi, kita tidak boleh melupakan Maria, Bunda dan Model Gereja. Dalam surat apostolik saya, Rosarium Virginis Mariae (Rosario Perawan Maria), saya telah menujuk Maria sebagai guru kita dalam merenungkan wajah Kristus dan antara misteri-misteri terang, saya memasukkan pendasaran Ekaristi. Maria dapat membimbing kita ke dalam Sakramen Mahakudus ini, justru karena dia sendiri mempunyai hubungan yang mendalam dengan Ekaristi.”

Dari pernyataan Paus ini, tampak jelas bahwa Maria merupakan tokoh yang dapat dijadikan sebagai panutan dalam menghayati Ekaristi. Dengan latar belakang Ensiklik ini, maka ada beberapa hal yang dapat direfleksikan untuk penghayatan yang baik dan benar akan Ekaristi melalui pribadi Maria.

Pertama, Maria adalah pribadi yang sangat mencintai Ekaristi. Secara tidak langsung kecintaannya terhadap Ekaristi ditunjukkan ketika ia hadir bersama jemaat perdana sesaat setelah Yesus naik ke surga atau pada saat pentakosta. Memang Kitab Suci tidak menujukkan secara jelas akan kehadiran pribadi Maria pada saat itu. Namun, sangat dipastikan bahwa Maria juga hadir pada saat para rasul dan jemaat perdana berdoa sehati sejiwa (Kis 1:14). Ia juga tentu selalu hadir dalam kumpulan komunitas jemaat perdana yang selalu bersama-sama mengadakan“pemecahan roti” bersama (Kis. 2:42). Kedua, Maria telah mempersembahkan dirinya sebagai “tabernakel” tempat Yesus bersemayam. Hal ini dapat dikaitkan dengan peranya sebagai ibu yang mengandung Yesus, sang Putra Allah. Sang Sabda menjadi daging karena kesediaan Maria memberikan dirinya sebagai kediaman Yesus. Di sini, Maria pasti telah mempersiapkan dirinya dengan baik dan bebas dari noda dosa. Ketiga, Sakramen Ekaristi merupakan sebuah bukti pengurbanan diri Yesus untuk keselamatan manusia dan Maria telah ikut serta dalam kurban keselamatan ini. Hal ini dapat ditelusuri dalam seluruh perjalanan hidupnya yang penuh dengan dukacita yang berpuncak pada bukit Kalvari, di mana ia menyaksikan dengan penuh kepedihan kematian Yesus. Yesus mengurbankan diri-Nya, tubuh dan darah-Nya, dan Maria telah mengikuti kurban tersebut dengan penuh kesetiaan. Inilah beberapa hal yang menujukkan keterlibatan Maria secara tidak langsung, namun penuh dengan makna bagi kita akan penghayatan Ekaristi.

Dari pesan reflektif Ensiklik Paus Yohanes Paulus II diatas, ada beberapa hal yang harus selalu dihayati sebagai orang beriman. Pertama, setiap umat beriman perlu mencotohi pribadi Maria yang selalu setia pada Ekaristi. Yang menjadi masalah dalam kehidupan zaman ini adalah bahwa ada sebagian orang yang tidak lagi setia mengikuti perayaan Ekaristi. Ekaristi hanya diikuti jika ada perayaan-perayaan besar. Padahal Ekaristi adalah saat dimana kita menyambut tubuh dan darah Kristus. Sebuah perayaan yang harus selalu diikuti oleh setiap orang beriman sesering mungkin. Di dalamnya, kita menerima santapan rohani yang akan menjadi daya yang selalu menguatkan perjalanan iman umat. Kedua, sebagaimana Maria yang menyediakan rahimnya menjadi “tabernakel”, di mana Yesus bersemayam sebelum hadir di dunia ini, maka setiap orang yang telah menerima tubuh dan darah Yesus dalam perayaan Ekaristi juga harus menjadi “tabernakel-tabernakel” yang baru, yang selalu menyimpan Yesus dalam dirinya. Oleh karena itu, setiap orang yang telah menerima tubuh dan darah Yesus harus menjadi kudus selalu, hidup dan perbuatannya harus berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Tubuh manusia yang fana telah diubah menjadi bait Allah dan Roh Allah tinggal di dalamnya (bdk. 1 Kor. 3:16). Ketiga, sebelum menerima Yesus melalui perkandungannya, Maria telah mempersiapkan diri dengan baik. Jawaban “Ya” pada saat menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel merupakan jawaban yang penuh dengan iman dan sudah dipersiapkan. Setiap orang beriman yang mau menerima tubuh dan darah Yesus juga dituntut demikian, harus selalu mempersiapkan diri dengan baik. Keempat, Sakramen Ekaristi adalah lambang pengurbanan diri Yesus bagi keselamatan umat mausia. Oleh karena itu setiap umat beriman harus menghormati dengan baik.Inilah problem yang sering melanda umat beriman, terkadang tubuh dan darah Yesus kurang dihormati. Selain itu umat kurang mempersipakan diri dengan baik untuk menerima kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur ke dalam dirinya. Pribadi Maria perlu dijadikan sebagai contoh dalam menghormati dan menghargai pengurbanan Yesus. Amin.

                        Fr. Antonius Iki, O. Carm

 

6 Mei. Yoh 2:1-11. Maria, pengantara yang setia

Posted on Posted in Uncategorized

Situasi penderitaan, kemalangan, dan kehilangan yang terjadi dalam kehidupan manusia seringkali membawa rasa putus asa bagi mereka yang mengalaminya. Sebagai akibatnya banyak orang jatuh ke dalam situasi depresi atau stress yang berkepanjangan, bahkan ada yang menjadi gila dan membawa kematian. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sebagai orang yang beriman Katolik pun, hal seperti ini sering terjadi. Meskipun sudah mengetahui bahwa kita sebenarnya mempunyai seorang ibu rohani yang patut diandalkan yakni Bunda Maria, namun seringkali orang lupa akan pribadi Maria yang selalu menolong dan memberi harapan bagi yang putus asa dan tanpa harapan. Orang tidak lagi mengandalkan sosok Maria sebagai pribadi yang dapat menyampaikan keluh kesah kepada Yesus. Orang lebih cepat beranggapan bahwa Bunda Maria adalah manusia biasa yang tidak mempunyai kuasa apa-apa. Bahkan lebih parah lagi, ada sebagian orang yang karena penderitaan yang dialaminya begitu berat menyebabkan ia menyangsikan keberadaan Maria, bahkan merasa bahwa Tuhan Yesus itu tidak ada.

            Hari ini kita diajak untuk merenungkan pribadi Maria sebagai seorang pengantara. Hal pertama yang perlu diperhatikan berkaitan dengan gelar ini adalah bahwa yang menjadi pengantara kita yang paling utama adalah Yesus sebagaimana yang dikatakan dalam surat pertama rasul Paulus kepada Timotius 2:5: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Yesus Kristus.”

Dalam bahasa Latin terdapat sebuah kalimat yang sangat indah yang biasa kita dengar atau gunakan berkaitan dengan peran Maria sebagai seorang pengantara. Bunyi kalimat tersebut adalah Per Mariam Ad Jesum yang berarti “melalui Maria menuju kepada Yesus”. Kalimat ini sebenarnya mau menujukkan suatu tugas yang diemban oleh Bunda Maria yakni sebagai seorang pengantara antara manusia dan Yesus. Maria adalah seorang perempuan desa sederhana seperti perempuan lainnya di dunia ini, namun ia telah dipilih oleh Allah untuk menjadi ibu Yesus dan ibu kita semua. Ia telah dirahmati oleh Allah sendiri melalui kuasa Roh Kudus yang memenuhinya dalam seluruh hidup dan karyanya (Luk 1:28-30). Atas dasar rahmat dan kasih karunia itulah, ia menjadi pengantara bagi kita anak-anaknya.

Injil Yohanes yang berbicara tentang kisah perkawinan di Kana merupakan kisah yang sangat baik untuk direfleksikan berkaitan dengan peran Maria sebagai seorang pengantara. Injil mengisahkan dengan sangat indah dan sangat manusiawi, bahwa sebagai seorang manusia, Maria menujukkan nilai-nilai solidaritas yang sangat baik kepada sesamanya yang berkekurangan. Pertama, sebagai seorang yang hidup dalam suatu masyarakat pada zamannya, Maria menujukkan suatu sikap keterlibatan diri yang patut dicontohi. Jika dikatakan bahwa Maria termasuk dalam keluarga inti yang sedang mengadakan pesta atau hanya sebagai seorang tamu udangan, maka Maria telah memperkenalkan kepada kita supaya selalu “ada” bagi sesama. Keberadaan kita bagi sesama dimaksudkan bukan hanya keterlibatan diri dalam situasi senang yang mereka alami melainkan juga dalam situasi susah dan kegetiran yang melanda hidup mereka. Kedua, Maria menujukkan kepada kita supaya selalu peka terhadap kebutuhan sesama yang berkekurangan. Peristiwa habisnya anggur yang dialami dalam pesta dapat teratasi berkat kepekaan pribadi Maria akan situasi yang ada. Berkat campur tanganya masalah kehabisan anggur tersebut dapat teratasi dengan baik, meskipun sebelumnya ia harus “ditolak” terlebih dahulu oleh Puteranya sendiri: “Mau apakah engkau daripada-Ku ibu? Saat-ku belum tiba” (Yoh 2:4).

Ciri-ciri yang diungkapkan seperti keterlibatan diri dan kepekaan     terhadap sesama inilah yang menjadi dasar kepengantaraan Maria. Maria menjadi pengantara antara manusia dengan Yesus sampai sekarang, sebagaimana yang terjadi di Kana yang di Galilea. Berkat keterlibatan dan kepekaan Maria, mukjizat pertama pun terjadi. Hal ini mau menujukkan bahwa hubungan antara Maria dan Yesus Puteranya merupakan hubungan yang tidak terpisahkan karena mereka telah bekerjasama agar karya keselamatan Allah terjadi di dunia ini. Maria juga akan terus menyertai perjalanan hidup manusia yang terpenting manusia bersedia untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Maria sebagaimana yang ia katakan kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu! (Yoh. 2:5).

Maria selalu hadir dalam seluruh pengalaman hidup yang kita alami. Yang menjadi masalah adalah apa kita selalu menyadari keterlibatan Maria dalam seluruh situasi hidup kita, menyadari kepengantaraannya yang tidak terbatas tersebut? Dalam kehidupan ini, manusia sering mengalami “kekurangan anggur” yang merupakan penyegar dikala kegersangan hidup melanda, namun kendalanya adalah manusia kurang menyadari kehadiran Maria. Manusia kurang mendekati dan bersandar pada pribadi Maria, sehingga saran-saran baik darinya kurang didengar dan dilakukan. Hasil akhirnya, Yesus tidak bekerja dalam kehidupan manusia.

Dalam memahami kepengantaraan Maria, umat beriman perlu memahami beberapa hal. Pertama, bahwa dalam kehidupan rohani, umat beriman tidak berjalan sendirian. Maria sebagai ibu rohani selalu menemani perjalanan anak-anaknya. Yang terpenting adalah umat beriman selalu menyadari kehadirannya. Kedua, ketika umat beriman tidak tahu meminta kepada Yesus, Maria selalu hadir untuk membantu untuk memohonkannya kepada Yesus. Dari umat beriman hanya dituntut kesedian diri untuk mau bekerja dengannya. Ketiga, apa yang harus dilakukan harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Yesus sendiri, mengikuti kehendak Yesus dan bukan mengikuti kehendak pribadi. Yesus akan selalu memenuhi apa yang umat beriman inginkan, yang terpenting permintaan yang dipanjatkan kepadanya adalah benar-benar suatu kebutuhan demi perkembangan hidup yang lebih baik. Keempat, Yesus selalu mempunyai kuasa untuk melakukan hal-hal yang dalam pandangan manusia dianggap tidak mungkin dan Maria merupakan rekan Yesus yang bisa membantu kita dalam kelemahan yang kita hadapi.

Fr. Antonius Iki, O. Carm

4 MEI. TEMA: MARIA BUNDA GEREJA

Posted on Posted in Uncategorized

CITRA, Cerita Indah Tentang Rencana Allah

Umat beriman dipanggil untuk memiliki ibu Maria. Maria adalah perawan suci karena tanpa campur tangan seorang laki-laki, melahirkan Putera Allah di dunia. Ia dipanggil oleh Allah untuk menjadi pralambang dan teladan kesuburan Gereja. Dan juga menjadi ibu, melahirkan anak untuk hidup baru yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan dari Allah. Maria membawa hidup dalam tubuhnya yang kemudian (Gereja) membawa Sang Sabda Hidup, Terang dunia itu sendiri dalam bejana baptis. Di dalam rahim-ibu Maria-lah Kristus telah datang, ke dalam bejana baptis, Kristus telah dikenakan. Rahmat pembaptisan telah memeteraikan umat beriman menjadi milik Kristus. Menjadi milik Kristus berarti menjadi milik Maria, dua pribadi berbeda tapi satu karena kesatuan serta keterpautan Hati Maria dengan Kristus Puteranya.

Maria dijadikan sebagai Bunda Gereja karena mendapat tempat di dalam hati putera-puteri Maria, yakni Gereja. Oleh karena itu, putera-puteri Maria memiliki ibu rohani (bdk. Ef 4:5). Peran kerohanian Maria Bunda Gereja menyertai dan menjiwai putera-puterinya, tidak secara fisik namun secara spiritual dalam ziarah menapaki padang gurun kemuridan Kristus. Situasi padang gurun (desolasi) yang dialami Gereja menandai bahwa peran kemuridan di tengah dunia mendapat tempat. Pada wajahnya yang suci, matanya yang tampak bening sejuk lembut memandang Gereja yang dibaluti lumpur kedosaannya dengan hati keibuannya.  Kehadiran dan peran serta Bunda Maria secara penuh, utuh, totalitas, serta berintegritas sesuai rencana dan kehendak Allah Bapa, merupakan gerakan Roh Kudus. Dengan disposisi batin rohani yang dimilikinya ini, Maria memiliki cinta yang mempesona bagi Gereja. Sebagai umat beriman harus disadari bahwa pengenalan secara menyeluruh tentang Bunda Maria akan menghantar umat beriman kepada penghayatan devosi kepada Bunda Maria secara benar dan tepat sasar. Jika umat beriman keliru dalam memahami Bunda Maria, maka hal ini akan menghantar umat beriman kepada penghayatan dan praktek yang keliru. Maria hanya sebagai sarana, Allah Bapa tetap menjadi tujuan utama doa-doa dari umat beriman.

Gereja dikatakan sebagai “sakramen keselamatan universal” (bdk LG no. 48), karena Gereja menjadi “tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan di antara semua manusia”. Hal ini menjadi hakekat perutusan Gereja yang menemukan puncak personifikasinya dalam diri Maria sebagai Bunda Gereja. Gereja memandang Maria sebagai model dalam segala dimensi kemuridan dan keberimanannya.

Maria dipandang sebagai typus Gereja oleh karena iman, kasih dan persatuannya yang erat dengan Yesus Kristus. Inilah yang menjadikan Maria sebagai teladan utama dalam mewartakan Kristus. Bunda Maria tampil sebagai “citra Gereja” (ecclesia typus) (LG. 63). Rahmat pembaptisan yang kita terima, memampukan kita mengimani Kristus melalui Maria yang telah mendandani wajah Gereja, yang menarik semakin banyak orang kepada Kristus oleh karena keterpesonaannya. Salah satu keterpesonaan Bunda Maria, melalui “Fiat Maria, yang Maria ucapkan pada saat menerima warta gembira. Dan dengannya Maria memberi persetujuannya untuk menerima misteri inkarnasi. Ia terlibat langsung di mana saja Yesus berada sebagai Sang Penebus dan kepala Tubuh Mistik Gereja. Di sana Maria hadir sebagai Bunda Gereja. Perawan suci yang dimiliki Bunda Maria, membangun relasi sosial rohani yang mesrah dengan Gereja yang olehnya anugerah-anugerah, serta rahmat yang dianugerahkan Allah Bapa, memampukan tugasnya sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja. Maria yang menjiwai umat beriman melalui devosinya yang menakjubkan, hadir sebagai tanda dan sarana penyelamatan umat manusia, maka sesungguhnya Maria melaksanakan rencana keselamatan Allah, dalam dan melalui Yesus. Oleh karena itu, maka putera-puteri Maria yang adalah Gereja perlu memahami makna Gereja sebagai tanda dan sarana penyelamatan. Penyelamatan manusia adalah tujuan Yesus datang ke dunia (inkarnasi), Maria adalah perawan yang tidak hanya mau, akan tetapi perawan yang terlibat, mau mendengarkan, dan menerima Sabda Allah Bapa dalam iman pula. Rahmat yang diterima umat beriman menandai bahwa usaha Tuhan memanggil setiap manusia untuk diselamatkan. Rahmat inilah yang menjadi tanda perjumpaan yang konkrit, nyata, aktual dalam dunia.

Marialis Cultus merupakan sebuah anjuran Apostolik oleh Paus Paulus VI. Anjuran Apostolik ini dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, tepatnya tanggal 2 Februari 1974, bertepatan dengan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, dan peringatan sebelas tahun masa pontifikat Paus Paulus VI. Dokumen ini, berbicara tentang bagaimana Gereja menghormati Bunda Maria dalam kerangka perayaan liturgi dan devosi-devosi terhadap Bunda Maria. Marialis Cultus adalah Dokumen pertama yang dikeluarkan oleh Magisterium Gereja, dalam semangat pembaharuan Konsili Vatikan II yang secara istimewa memperbincangkan devosi kepada Bunda Maria. Menelaah lebih jauh, isi praksis yang patut kita ketahui sebagai umat beriman adalah penghormatan kepada Santa Perawan Maria. Oleh Paus Paulus ke VI, penghormatan yang dilakukan oleh umat beriman merupakan satu-satunya ibadat yang selayaknya disebut Kristiani. Dikarena berasal dari Kristus dan memperoleh kekuatan dari-Nya, mendapatkan ungkapan yang tuntas dalam Kristus, serta menghantar kita melalui Kristus dalam roh kepada Bapa. Selain itu terkandung unsur instrinsik kebaktian Kristiani.

Momentum perjumpaan Maria dengan Elisabeth merupakan moment penting bagi Gereja.  Penghormatan yang ditujukan kepada Bunda Maria oleh Elisabeth memberi salam bahagia kepadanya (bdk. Luk 1:42-45). Hal ini berlanjut sebagai ungkapan pujian dan permohonan yang dilakukan oleh Gereja, merupakan bentuk kesaksian yang amat kuat terhadap lex orandi (norma doa Gereja) dan sekaligus undangan bagi umat beriman untuk menjadi lebih sadar akan lex credendi (norma iman Gereja).

Maria kembali hadir dalam komunitas perdana di kalangan kelompok 12 yakni Gereja perdana. Maria sebagai perawan suci yang berdoa (bdk. Kis 1:14) “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, Ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus”. Pernyataan teks ini mau mengatakan kepada Gereja bahwa Maria adalah sungguh perempuan yang hidup dalam doa. Melalui doa Maria, ia hadir di tengah Gereja perdana dan menjadi representasi Gereja sepanjang masa. Maria adalah salah seorang yang pergi ke “ruang atas” di Yerusalem dan berdoa bersama para rasul. Secara eksplisit penginjil Lukas menyebut nama Maria Ibu Yesus. Selain itu dalam (Kis 1:14) “ Maria ada bersama para murid pada waktu pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Roh Kudus yang turun atas para rasul,  mengembalikan memori rohani kenangan-kenangan ketika Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel yang mengatakan: “Roh Kudus turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (bdk. Luk 1:35). Peristiwa ini merupakan penggenapan dari segalanya yang dimulai pada hari istimewa, ketika Maria menyerahkan dirinya kepada tindakan Roh Kudus. Maria mengalami karunia agung dari Puteranya yakni Roh Kudus yang dicurahkan itu, hidup dalam hati para murid-Nya dan di tengah umat manusia.

Dan setelah menyelesaikan tugasnya di dunia sebagai Bunda Yesus dan Gereja, Ia dipersatukan dengan Sang Putera Penebus sebagai sarana dan tanda keselamatan bagi umat manusia. Sesudah mengakhiri perjalanan kehidupannya di dunia ini, Perawan Maria tersuci diangkat dengan jiwa dan badan ke dalam kemuliaan surga, di mana ia sudah mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Puteranya dan dengan demikian mengantisipasi kebangkitan semua anggota Tubuh-Nya. “Kami percaya bahwa Bunda Allah tersuci, Hawa yang baru, Bunda Gereja, melanjutkan di dalam surga keibuannya terhadap anggota-anggota Kristus” (SPF 15). Pertanyaan refleksi untuk kita, Apakah saya mempunyai Cerita Indah Tentang Rencana Allah atas hidupku?

Fr. Frater Paschalis, BHK

 

3 Mei: Pesta St. Filipus dan Yakobus, Rasul. Teks KS: Yoh. 14:6-14.

Posted on Posted in Uncategorized

Hidup dalam Ketersembunyian

            Di sebuah kota kecil di Pulau Flores, ada sebuah biara suster kontemplatif dengan klausura nan ketat. Meski demikian, lingkungannya bersih dan rapi. Taman-taman tempat aneka bunga dan tanaman hias tumbuh ditata dengan sangat baik. Di pintu masuk biara terpampang tulisan: “Oh, keheningan yang membahagiakan!”. Benar… Siapapun yang datang ke sini pasti akan segera menemukan kedamaian dan ketenangan batin. Hari-hari di dalam biara itu penuh dengan doa dan kerja: doa bagi keselamatan dunia dan kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sering kali, banyak orang dari berbagai latar belakang datang untuk berjumpa dengan para suster, dengan tujuan meminta bantuan doa untuk berbagai keperluan: supaya ujian berhasil, supaya dijauhkan dari bahaya, supaya mendapat jodoh yang tepat, supaya sukses dalam usaha, supaya bisa naik pangkat, bahkan permohonan supaya hujan tidak turun selama sebuah pesta syukuran dilaksanakan. Dari berbagai kesaksian diceritakan bahwa doa para suster itu tidak pernah meleset. Ada yang berkomentar: “Suster-suster ini polos sekali, seperti malaikat…, kalo lagi bicara, suara dorang punya tu halus sekali, bikin hati jadi tentram…”. Maka kendati hidup tersembunyi di balik terali besi dan tembok tinggi, para suster itu sangat dicintai dan dihormati oleh semua orang di kota kecil itu. Dari kesaksian hidup merekalah, banyak orang menemukan Tuhan.

Injil hari ini mengetengahkan permintaan Rasul Filipus kepada Yesus: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh.14: 8). Yesus justru menyayangkan sikap Filipus beserta para murid lainnya. Mereka memang telah memilih mengikuti Yesus, ke mana-mana bersama Yesus, hidup dengan Yesus, dan menyaksikan pekerjaan-pekerjaan ajaib yang dibuat Yesus. Sayangnya, sosok Yesus bagi mereka masih sebatas seorang ‘guru atau pemimpin hebat’ yang dapat melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang lain. Yesus tak jauh berbeda dengan guru-guru dan pemimpin-pemimpin hebat lainnya pada masa itu. Nyatanya, pemikiran itu juga belum cukup untuk memuaskan kerinduan terdalam mereka akan Tuhan. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih konkret hingga lupa bahwa Yesus adalah gambaran diri Allah Bapa; dalam diri-Nya Bapa turut berkarya melakukan segala sesuatu yang ajaib. Seharusnya, dengan melihat dan mengenal sang Guru yang mereka ikuti itu, mereka pun telah melihat dan mengenal Bapa.

            Filipus boleh dikatakan cukup mewakili umat manusia zaman sekarang. Di tengah berbagai kesibukan dan hingar-bingarnya dunia modern, ada banyak orang yang tidak mengenal Allah. Mereka sulit menyadari kehadiran Allah dalam hidup mereka. Mereka justru mengejar-ngejar harta-kekayaan, kemuliaan, dan kesenangan duniawi belaka. Namun semakin mengejar, semakin mereka tidak merasa puas. Pada batas tertentu, mereka mulai mencari Tuhan. Awalnya, Tuhan yang dicari ialah Tuhan yang sesuai dengan ketegori pikiran manusiawi mereka masing-masing, yakni Tuhan yang harus terlihat setiap karya dan kebaikan-Nya. Butuh proses panjang sebelum akhirnya mereka dapat melihat bahwa Tuhan sesungguhnya berada di setiap pengalaman. Ia hadir dan turut bekerja dalam hidup manusia sepanjang waktu. Bahkan, dalam pekerjaan-pekerjaan kecil yang tersembunyi dan tidak dihiraukan orang, Allah turut bekerja demi penyelamatan manusia.

            Apa tugas bagi kita selaku orang-orang percaya? Kita dipanggil untuk lebih militan lagi dalam beriman. Iman yang militan tidak harus radikal, melainkan iman yang terwujud dalam hidup sehari-hari. Segala yang kita lakukan, mesti merupakan buah dari penghayatan iman kita akan Tuhan. Penghayatan iman itupun tidak perlu dipamer-pamerkan hanya demi sebuah pengakuan semu. Justru dalam pekerjaan-pekerjaan yang kecil dan tersembunyilah, wujud iman tersebut menjadi lebih nyata dan lebih berdaya guna menguatkan siapapun yang kita jumpai dalam tiap hari. Filosofi inilah yang barangkali dihidupi secara nyata oleh para suster dari biara kontemplatif di Flores seperti yang diceritakan di atas.

            Bunda Maria adalah teladan nyata bagaimana iman itu diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Melalui fiat-Nya: terjadilah padaku menurut perkataan-Mu, ia mengajarkan kita tentang bagaimana beriman… iman yang sejati itu terdapat dalam kerelaan untuk membiarkan kehendak Tuhan terjadi dalam hidup kita. Tidak perlu banyak berkata-kata tentang iman, segala yang Maria lakukan baik yang tertulis dalam Injil maupun yang ‘tersembunyi’ dan tidak diketahui orang, sudah menjadi bukti kualitas imannya kepada Tuhan. Tak mengeherankan bila Tuhan selalu mendengarkan doa-doanya, juga doa-doa kita yang kita panjatkan lewat pengantaraannya. Dengan cara demikian, Bunda Maria menjadi sarana keselamatan bagi kita. Seperti sang Bunda, kita pun dapat menjadi sarana keselamatan bagi sesama di sekitar kita. Pesan ini sejalan dengan nasihat Rasul Paulus agar dengan setiap perbuatan baik yang kita lakukan, orang dapat mengenal Allah (bdk. 1 Ptr.2:12). Hendaknya hidup kita sendiri dapat menggugah orang untuk mengenal Allah secara lebih dekat.

Fr. Stefanus Fua Tangi, O. Carm