Buku API PENYUCIAN : Berdasarkan Riwayat Hidup dan Kesaksian Para Kudus

Posted on Posted in Buku Rohani MCI, Info

Dalam buku yang mengaggumkan ini, Pater Schouppe menyajikan tradisi Katolik yang sudah sangat tua mengenai api penyucian, sekaligus, ia menjelaskan betapa siksaan di api penyucian itu sungguh mengerikan – lebih mengerikan daripada semua penderitaan yang dikenal di muka bumi. Buku ini juga menjelaskan bahwa belas kasih Allah yang tak terbatas jauh melebihi keadilan-Nya. Allah mengijinkan jiwa-jiwa di api penyucian menampakkan diri di muka bumi untuk meminta doa, matiraga, dan Misa demi pembebasan mereka. Dalam buku ini juga, pembaca akan menemukan sumber-sumber yang layak dipercaya dari penampakkan dan pewahyuan mengenai api penyucian yang diambil dari riwayat hidup para kudus.

Harga Buku Rp. 70.000,-

Jumlah Halaman : 354

Ukuran Buku : 15 x 21 Cm

Untuk pemesanan dapat menghubungi via WA atau SMS ke nomor HP 081295231857. Buku juga dapat Anda dapatkan di T.B. OBOR, Takom KANISIUS, dan Toko Buku GRAMEDIA di kota anda.

Tuhan  Memberkati, Bunda Maria Mendoakan

 

Resensi Buku “Do You Know Our Lady” ?

Posted on Posted in Buku Rohani MCI

Judul Resensi : Mengenal Maria Melalui Kitab Suci
Judul Buku : Do You Know Our Lady? Pemahaman Singkat Mengenai Maria Dalam Kitab Suci
Penulis : Maria Fransesca Perillo, FI
Penerbit/Cetakan : Marian Centre Indonesia (MCI)/Cetakan ke-2 (2016)
Jumlah Halaman : 150 Halaman
Harga : —

DEWASA ini devosi kepada Maria dalam Gereja Katolik semakin berkembang seiring dengan semakin banyaknya umat Katolik yang bergabung dalam berbagai kelompok rohani kategorial Marial seperti Legio Maria, Kerabat Santo Monfort, Gerakan Imam Maria, Rosario Hidup Santa Filomena dan berbagai kelompok doa devosional Maria yang ada di berbagai Komunitas Basis Gerejani (KBG) atau yang muncul dari kelompok teritorial.

Peran Bunda Maria dalam hidup seorang Kristiani juga tidak bisa dipisahkan, wanita dari Nazaret yang sangat dekat dengan Yesus ini mendapatkan tempat istimewa dalam hati banyak orang dan mendorong mereka untuk lebih mengenalnya dengan baik. Maria dikagumi, dicintai, dihormati, dijadikan sumber inspirasi peziarahan hidup sampai pada keyakinan yang tak tergoyahkan : pertolongan atau bantuan doanya selalu diharapkan.

De Maria nun-quam satis, Tidak pernah orang mengatakan cukup tentang Maria. Itulah gambaran yang pas tentang Maria sebagaimana dikatakan Santo Bernardus dari Clairvaux. Berbagai bentuk praktek devosi yang berkembang semuanya menggambarkan keistimewaan peran Bunda Maria sejak dulu kala hingga dewasa ini, sejak dia mengambil peran penting dalam sejarah keselamatan Allah bersama Yesus Kristus hingga perhatiannya keibuannya yang “kelihatan” di abad-abad terakhir dalam bentuk berbagai penampakan disejumlah tempat ( seperti Lourdes, Fatima, Garabandal, Guadalupe) yang kini menjadi terkenal dan dikunjungi jutaan peziarah.

Sepanjang roda sejarah berputar, ada banyak orang telah melahirkan tulisan-tulisan tentang Maria. Orang-orang kudus, para bapa Gereja dan para Teolog (Mariolog) pencinta Maria telah dan terus menulis berbagai khazanah kekaguman mereka tentangnya dari berbagai sudut pandang. Namun, hal lain yang mungkin terkadang kita lewatkan adalah bagaimana lembaran-lembaran Kitab Suci berbicara tentang Maria, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

Buku berjudul “Do You Know Our Lady? Pemahaman Singkat Mengenai Maria Dalam Kitab Suci (MCI, 2016) menawarkan panduan bagi kita masuk ke dalam Kitab Suci menemukan bagaimana keterlibatan Bunda Maria dalam sejarah keselamatan yang telah direncanakan Allah sejak awal telah terang-benderang dilukiskan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja juga telah menggarisbawahinya dimana, “Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk kita renungkan.” (LG 55)

Bila kita membuka Kitab Suci Perjanjian Lama, dimulai dari kitab pertama yakni Kejadian di sana telah diramalkan peran yang akan diberikan kepada Maria, secara eksplisit menyebutkan “Seorang wanita dengan keturunannya akan berperang melawan ular dan menghancurkan kepalanya.”

Sejumlah teks Kitab Suci Perjanjian Lama mendengungkan peran Kenabian Maria dijelaskan dengan sangat baik dalam buku ini, seperti “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunannya” (Kejadian 3:15), “Seorang Perawan akan mengandung dan melahirkan seorang Putera” (Yesaya 7:10-14) dan “Sampai waktu perempuan melahirkan dan telah melahirkan” (Mikha 5:1-2).

Perjanjian Lama juga memberikan gambaran atau simbol Bunda Maria tidak hanya Hawa, tapi dari tokoh-tokoh wanita yang ada dalam Perjanjian Lama. Demikian pun salah satu simbol terpenting Maria dalam Perjanjian Lama sebagai simbolik Tabut Perjanjian.

Buku ini menguraikan pula dengan bahasa yang mudah dimengerti tentang Bunda Maria dalam Perjanjian Baru. Digambarkan bagaimana Bunda Maria dalam masa Kanak-Kanak Yesus yang tergambarkan dalam rangkaian berbagai peristiwa penting sebagai penggenapan nubuat para nabi sebelumnya.

Sejumlah kutipan perikop Injil terutama Lukas juga dipertajam agar pembaca bisa mendapatkan sebuah perspektif yang cukup komprehensif seperti “Salam Yang Penuh Rahmat” (Lukas 1:26-38), “Terberkatilah Engkau di antara Wanita” (Lukas 1:39-45), “Semua bangsa akan menyebut aku bahagia” (Lukas 1:46-56), Kelahiran Mesias (Lukas 2:1-7), “Dan jiwamu akan ditusuk dengan pedang” (Lukas 2:22-40) dan berbagai perikop “kunci” lainnya.

Mengenal Santa Perawan Maria juga semakin membuat kita terkagum-kagum akan peran kebundaannya ketika kita terus melangkah melewati lembar demi lembar Kitab Suci Perjanjian Baru dan menemukan kehadirannya dalam Karya Pelayanan Yesus. Buku yang bagus ini menguraikan moment paling indah tersebut dalam kutipan teks penginjil Yohanes 2:1-11 “Mereka tidak memiliki anggur”, kisah “Dari Kana ke Kalvari” gabungan kutipan perikop-perikop dari ke 4 Injil dan “Bunda Berdiri” (Yohanes 19:25-27) yang melukiskan ketegaran hati seorang Ibu dihadapan Anaknya yang mati di kayu Salib.

Bagian akhir dari buku yang sangat menarik ini mengupas lebih dalam tentang Bunda Kita dan Gereja. Dijelaskan bagaimana peristiwa kelahiran Gereja yang baru, diwakili para rasul; Maria hadir dalam penggambaran sentral dan penting sebagaimana ditulis penginjil Lukas yaitu “Maria, ibu Yesus”.

Artinya sejarah Kristus adalah mulai dari Maria. Demikian pula tubuh mistik Kristus, yaitu Gereja, lahir pula dari Maria. (Hal. 132). Dua telaahan pelengkap lainnya tentang Bunda Kita dan Gereja adalah Wanita dalam Kitab Wahyu dan Wanita dalam Kitab Suci—Yang Dikandung Tanpa Dosa (Imakulata).

Buku You Know Our Lady? Pemahaman Singkat Mengenai Maria Dalam Kitab Suci terbitan Marian Centre Indonesia ini menjadi buku referensi yang sangat bagus dan dianjurkan bagi siapa saja yang ingin mendalami peran Maria dalam sejarah keselamatan dalam pesan dan penggambaran Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pengetahuan tentang Kitab Suci yang berbicara tentang Maria dan pemahaman yang benar tentangnya melalui buku tersebut penting untuk menumbuhkan kecintaan dan membangun fondasi devosi Marial yang utuh. Dan itu semua telah terangkum dengan bagus dalam buku ini.(JIMMY C.)

***
Buku ini, Majalah AVE MARIA dan Buku-buku Rohani terbitan Marian Centre Indonesia dapat dipesan langsung melalui nomor HP 081295231857 via WA atau SMS. Nomor HP tersebut merupakan nomor resmi Yayasan Marian Centre Indonesia.
Alamat lengkap kami yaitu :
MARIAN CENTRE INDONESIA
Jalan Karmel II, Blok D No. 1, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530
Telepon (021) 53652364 atau (021) 53652365
Email : mci.avemaria@yahoo.com
Website: www.mariancentre.or.id

Renungan Sabtu, 09 Desember 2017 Pekan I Adven, Matius 9:35-10:1,6-8

Posted on Posted in Uncategorized

Panggilan untuk bekerja sama dengan Yesus

Dalam kehidupan-Nya, misi Yesus untuk menyelamatkan manusia tidak hanya sebatas pada kata-kata yang diucapkan-Nya atau pengajaran-pengajaran yang diberikan-Nya. Misi untuk menyelamatkan umat manusia ditujukkan langsung dalam tindakan nyata dengan datang dan berada bersama umat-Nya. Hal ini dengan sangat jelas ditunjukkan oleh penginjil Matius pada hari ini. Yesus berkeliling ke semua kota dan desa, mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan yang dimiliki oleh manusia (Mat. 9.35).

Selanjutnya, misi untuk menyelamatkan semua orang tersebut bukan hanya dikerjakan-Nya sendiri. Yesus selalu menyertakan orang lain untuk bekerjasama dengan-Nya, yang terpenting orang tersebut mau megikuti-Nya dan bekerjasama dengan-Nya. Untuk hal ini dapat ditemukan dalam diri ke dua belas murid yang dipilih oleh Yesus sendiri untuk berkerja secara bersama-sama mewartakan karya agung cinta kasih Allah di dunia ini. Kepada orang-orang yang dipilih, diberikan kuasa yang sama oleh Yesus yakni dapat mengusir roh jahat dan mempunyai kemampuan untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan badan (Mat 10:1). Semua anugerah itu diberikan oleh Yesus dengan cuma-cuma dan tanpa perhitungan. Yang terpenting baginya adalah orang dapat menggunakan anugerah tersebut dengan baik dan karya agung cinta kasih Allah dapat terlaksana di dunia ini, dengan demikian banyak orang yang diselamatkan. Kasihlah yang menjadi dasar dari karya agung Yesus di tengah dunia ini.

Melalui bacaan Injil hari ini, ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan refleksi, yang dapat membantu perkembangan iman kekristenan kita.

Pertama, dari setiap kita perlu menyadari bahwa Yesus terus menerus “bekerja” dalam seluruh kehidupan ini, baik dalam suka maupun dalam suasana duka. Dengan kesadaran akan hal ini, maka kita akan menerima dengan penuh syukur segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Dengan suatu kepercayaan bahwa Yesus pasti akan membantu kita untuk keluar dari semua persoalan hidup ini. Yesus terus bekerja sebagaimana, Ia tidak henti-hentinya berkeliling dari desa ke desa untuk mewartakan Kerajaan Allah dan segala kebenaran-Nya.

Kedua, setiap kita yang menamakan pengikut Yesus adalah murid Yesus. Lebih indah lagi, bahwa berkat rahmat pembaptisan yang diterima oleh setiap murid Kristus, kita dimasukkan ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Jadi kita menjadi anak sekaligus murid.  Oleh karena itu, sebagai anak kita harus patuh dan taat pada kehendak Tuhan dan sebagai murid kita dipanggil untuk bersama-sama sang guru yang adalah Yesus, bekerjasama dalam melihat, memahami dan membangun Kerajaan Allah di tengah dunia ini.

Ketiga, setiap kita yang adalah murid Yesus diberi kuasa yang sangat menakjubkan. Kuasa tersebut hampir sama dengan kuasa yang dimiliki oleh Yesus sendiri: dapat menyembuhkan orang yang sakit, membangkitkan orang yang mati, mentahirkan orang yang terkena kusta dan mengusir setan (Mat. 10:7). Suatu kebaikan yang tiada taranya, karena Yesus tidak pernah menyembunyikan sedikit pun kemahakuasaan-Nya untuk kita, bahkan ia memberikan-Nya kepada manusia untuk bekerja menaklukkan kuasa jahat yang berusaha menguasai dunia ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah sanggupkan kita mau selalu melaksanakan kehendak-Nya, sehingga diberi kekuasaan seperi itu?

Keempat, keselamatan yang kita kerjakan memang untuk semua orang, tetapi sangatlah penting supaya pertama-tama kita memulainya dari kelompok kita. Yesus berpesan “pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:6). Belajar dari umat Israel bahwa umat Israel adalah umat pilihan Allah, walaupun demikian masih ada sebagian umat yang berpaling dari Tuhan. Mereka ini adalah orang domba yang hilang dari umat Israel. Namun, Tuhan tidak pernah berhenti untuk memanggil mereka kembali kepada-Nya. Hal yang sama juga dituntut dari kita oleh Tuhan, untuk membawa kembali kepada Tuhan semua orang yang tersesat dalam perjalanan iman mereka. Agar mereka juga dapat mengecap kabar baik tentang Kerajaan Allah dan memperoleh keselamatan.

Kelima, segala hal baik yang diterima dalam hidup adalah anugerah cuma-cuma dari Allah. Oleh karena itu, yang dituntut dari kita adalah memberikan juga dengan Cuma-Cuma segala hal baik yang kita miliki kepada sesama, yang dapat membantu perkembangan hidup dan iman mereka.

Panggilan untuk menyebarkan warta tentang Kerajaan Allah di dunia adalah panggilan semua orang Kristen. Panggilan tersebut mendapat dasar yang kuat dalam pribadi Yesus sendiri sebagai yang mempunyai kuasa untuk memanggil dan mengutus. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah setiap pengikut Yesus untuk terus bersandar pada pribadi Yesus yang dapat memberikan kekuatan untuk setiap tugas dan pelayanan di dunia ini. Amin.

               

Renungan Sabtu, 23 September 2017, Hari Minggu Biasa XXIV, Lukas 8:4-15

Posted on Posted in Uncategorized

Rahmat Allah yang cuma-cuma bagi manusia

                Sebagai pengikut Yesus, kita seharusnya bersyukur kepada Yesus berkaitan dengan pengajaran-Nya melalui perumpamaan tentang seorang penabur pada hari ini. Mengapa kita perlu bersyukur? Karena Yesus sebagai seorang guru yang baik tidak hanya memberikan sebuah perumpamaan tanpa penjelasan. Yesus memberikan perumpamaan sekaligus penjelasanya. Dan yang menjadi inti adalah firman Allah yang adalah wujud dari diri-Nya sendiri yang merupakan jalan kebenaran, dan kehidupan. Melalui perumpamaan ini sebenarnya Yesus ingin menyadarkan kita bagaimana gambaran diri kita ketika menerima diri-Nya dalam seluruh pngalaman hidup yang kita alami.

                Menarik sekali bahwa Allah dalam perumpamaan ini digambarkan sebagai seorang penabur yang menaburkan benih di ladang-Nya. Menurut Yesus dalam penjelasan-Nya berkaitan dengan perumpamaan tersebut, benih yang ditaburkan adalah firman Allah yang adalah diri-Nya sendiri. Hal ini adalah benar karena Yesus adalah firman yang menjadi daging. Jadi sekali lagi, dalam perumpamaan ini Yesus hendak menegaskan kembali tentang diri-Nya sendiri. Bagaimana kita menerimanya dalam ladang kehidupan ini?

                Sebelum melihat makna yang terkandung dalam keempat jenis tanah dalam perumpamaan ini, pertama sekali kita perlu melihat Allah sendiri sebagai seorang pribadi yang maharahim. Mengapa Allah dikatakan sebagai Maharahim? Karena dari kelimpahan rahmat-Nya, Allah berkenan turun ke ladang yang adalah gambaran dunia untuk menaburkan benih (Sabda=Yesus). Sama halnya dengan Allah yang mengutus Yesus ke dunia untuk menyelamatkan semua orang. Jika dilihat sesuai dengan teks sebenarnya kita melihat suatu aksi menarik yang dilakukan oleh sang penabur. Sepertinya sang penabur tidak berhati-hati dalam membawa benih tersebut sehingga ada sebagain benih jatuh begitu saja. Ada yang di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, dan di semak duri. Namun bukan hal itu yang mau ditegaskan jika kita mau melihat kemaharahiman Allah. Yang mau ditegaskan adalah rahmat cuma-cuma yang diberikan oleh Allah kepada semua orang tanpa memandang apakah dia orang baik atau orang jahat. Benih yang jatuh begitu saja ketika sang penabur akan menabur melambangkan rahmat cuma-cuma yang diberikan oleh Allah. Yang menjadi problem adalah bagaimana manusia menanggapi rahmat cuma-cuma tersebut. Apakah hanya menerima begitu saja, tanpa kesadaran akan manfaat dari benih tersebut? Ataukah menerima dan menyadari bahwa benih tersebut harus dipelihara dan dikembangkan agar tumbuh dan berbuah? Dan memelihara firman yang adalah Yesus berarti memelihara kabar baik yang telah diwartakan oleh Yesus dalam seluruh kehidupan kita, yang berdasarkan pada kasih sebagai titik tolaknya.

                Dari perumpamaan ini, kita menjadi tahu bahwa sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membuat manusia lalai dalam memelihara dan menjalankan sabda Allah dalam kehidupan ini. Pertama, hati nurani yang tumpul. Sebagaimana dalam ajaran moral maupun etika yang mengatakan bahwa hati nurani merupakan pusat yang memampukan manusia untuk melakukan yang baik dan menghindarkan yang jahat. Hati nurani haruslah benar-benar murni supaya segala sesuatu dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Dalam perumpamaan ini, terjadi bahwa karena hati nurani telah dinodai oleh roh jahat sehingga firman Allah tidak bertahan lama di dalamnya. Banyak manusia yang lebih suka memberikan hatinya sebagai tempat persinggahan bagi iblis dari pada untuk kediaman Yesus. Mereka lebih percaya pada iblis yang hanya memberikan kepuasan sesaat dari pada Yesus yang sanggup memberikan kebahagiaan dalam kehidupan yang kekal di surga. Kedua, iman yang lemah. Iman yang lemah dalam perumpamaan ini digambarkan dengan kurang berakarnya firman yang diwartakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan karena kurangnya iman tersebut maka orang cepat menjadi murtad. Dalam kenyataan terdapat banyak pengalaman yang menunjukkan hal ini. Orang cepat tergiur dengan tawaran-tawaran yang datang dan rela mengorbankan iman kepada Yesus hanya untuk memperoleh kenikmatan yang sesaat. Ketiga, situasi duniawi yang menggiurkan. Misalnya kekayaan selain membuat orang bahagia juga dapat membuat orang menjadi begitu egois dan materialis. Banyaknya harta yang dimiliki sering membuat orang khawatir untuk mengatur kekayaan tersebut. Hal ini seringkali mengorbankan hal-hal yang paling penting seperti iman dan agama. Orang lebih banyak memperhatikan keberadaan kekayaan daripada mengatur kehidupan kerohaniannya.

                Inilah gambaran yang dapat dipetik dari perumpamaan hari ini. Tuhan menghendaki kita menerima rahmat yang Ia berikan secara cuma-cuma dengan baik. Kita ditutut untuk menerima Sabda dalam hati yang penuh syukur tanpa ada beban. Hal ini tampak bagaikan benih yang jatuh di tanah yang baik. Itulah gambaran manusia yang menerima sabda Allah dan merenungkannya dalam kesehariannya dengan demikian menghasilkan buah yang dapat dinikmati bukan hanya bagi diri sendiri tetapi bagi semua orang. Yesus adalah Firman Allah yang hidup. Amin.

 

               

Renungan Sabtu, 09 September 2017; Minggu Biasa XXII, Lukas 6:1-5

Posted on Posted in Uncategorized

Dasarnya adalah kasih

                Bagi sekelompok orang peraturan seringkali disebut sebagai sebuah “tali” yang mengikat. Oleh karena kuatnya ikatan tersebut dengan sesuatu hal, maka kebebasan seringkali tidak ditemukan didalamnya. Bahkan setiap orang ditutuntut untuk patuh pada hal-hal yang telah diikat tersebut. Hal inilah yang dapat kita temukan dalam diri orang-orang Farisi pada hari ini. Sebaliknya ada orang yang melihat peraturan adalah buatan tangan manusia sendiri atau dengan kata lain bukan aturanlah yang membuat manusia. Dengan demikan orang-orang seperti ini akan melihat aturan sebagai sebuah cara atau jalan, dimana seseorang dapat menjalankan hidupnya dengan lebih terarah. Selain itu, karena peraturan itu dibuat oleh manusia dan bukan aturan yang membuat manusia, maka manusia bisa mengubahnya, sesuai dengan kebutuhan yang menuntutnya. Hal inilah yang kita temukan dalam pribadi Yesus.

                Hari ini Injil mengisahkan kepada kita tentang kegusaran orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, karena murid-murid Yesus memetik bulir-bulir gandum, menggisarnya dengan tangan dan memakannya. Suatu hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, karena hal ini dilarang dalam peraturan agama Yahudi. Orang-orang Farisi gusar karena mereka adalah orang-orang yang teguh memelihara peraturan teresebut dari generasi ke generasi, dan kini melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan para murid Yesus. Mungkin saja mereka berkata dalam hati kenapa Yesus yang dikatakan sebagai pemenuh hukum Taurat ini mengajarkan hal yang salah? Bukankah ia sebagai pemenuh hukum tersebut, ia harus menjalankan hukum dengan baik? Inilah kesempatan yang baik bagi mereka untuk mempersalahkan Yesus, dan menjebaknya bahwa ia telah mengajarkan sesuatu yang salah kepada para murid-Nya.

Orang-orang Farisi mempersalahkan Yesus dan menyangka bahwa Yesus akan benar-benar tersisihkan karena mengajarkan yang salah. Namun, bukanlah demikian dengan pribadi Yesus. Yesus menanggapinya dengan akal sehat dan hati yang tenang. Yesus menjawab pernyataan kaum Farisi dengan merujuk pada pribadi Daud, dimana dalam zamannya ketika Daud dan para pengikutnya lapar, mengabil makanan yag hanya dikhususkan bagi para imam dan mereka memakannya. Menarik bahwa Yesu merujuk pada pribadi Daud, dan kita tahu bahwa Yesus sendiri berasal dari garis keturunan Daud tersebut. Tahkta Daud diberikan kepada-Nya (Lukas 1:32). Yesus melakukan perbuatan demikian karena ia melihat ada sesuatu yang lebih penting dari pada sekedar melakukan dan menjalankan aturan. Bagainya, Anak manusia adalah Tuhan atas hari sabat. Dalam arti yang lebih sederhana Ia sendiri adalah Tuhan atas hari sabat, Ia yang berkuasa atas hari sabat (bdk. Salah satu gelar Yesus sebagai Anak Daud). Dengan mengatakan hal demikian, sebanrnya Yesus mau mengatakan bahwa manusia yang membuat aturan hari sabat, tetapi Saya (Yesus) yang lebih berkuasa atas semua manusia di atas bumi ini yang telah menciptakan hari sabat tersebut. Jadi, Yesus bisa melunakkan aturan-aturan yang ada di dalamnya.

Melihat misi Yesus di tengah dunia yang berlandaskan pada kasih sebagai titik tolak pelayanannya, sebenarnya Yesus mau menekankan satu hal dari tindakannya di atas. Baginya, yang lebih penting adalah kasih dan bukan kurban persembahan. Itulah yang dikehendaki oleh Yesus. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Yesus sampai melunakkan beberapa aturan yang sebenarnya harus dipatuhi secara teguh. Hal inilah yang harus diikuti oleh setiap pengikutnya.

Bagi kita zaman sekarang, sebagain dari kita seringkali menjadi “Farisi” baru yang teguh pada peraturan sampai melupakan aspek lain yang lebih penting daripada itu, yakni kasih. Aturan yang ketat terhadap hukum seringkali membuat kita harus mengorbankan sesame kita yang sebenarnya memaklunkan suatu kebenaran dalam kehidupan ini. Semoga pesan Yesus hari ini menyadarkan kita, bahwa dalam berbuat sesuatu, kita hendaknya selalu mengenakan belaskasihan sebagai dasar utama. Sebagai murid Yesus, kita harus belajar dari Paulus yang memandang belaskasih Yesus Kristus sebagai dasar panggilannya sebagai pewartaannya. Tuhan memberkati.

               

 

Renungan Sabtu, 26 Agustus 2017 Minggu Biasa XX, Matius 23:1-12

Posted on Posted in Uncategorized

Ada sebuah kenyataan bagus yang sering ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat yakni orang yang lebih tua dilIhat sebagai orang yang dapat memberikan panutan, petuah, nasihat, dan arahan bagi mereka yang lebih muda. Benarlah hal ini jika dilihat dalam kacamata pengalaman hidup, karena mereka yang lebih tua dilihat sebagai orang yang sudah banyak berpengalaman dalam mengarungi suka dan duka hidup ini. Mereka telah mengetahui bagaimana caranya berjalan dalam hidup dan mengatasi setiap persoalan yang menimpa kehidupan ini. Salah satu seruan yang sering kita dengan adalah “rambut yang sudah putih melambangkan kebijaksanaa”, namun seringkali kita harus kritis terhadap pernyataan ini karena dalam kenyataan tidak semua orang yang sudah tua atau lanjut umurnya selalu bersikap bijaksana dalam kehidupan ini. Kadang apa yang mereka katakan berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Dalam hal ini orang yang “lebih tua” harus dilihat dalam pandangan yang lebih luas, dan sangat menarik bahwa yang diangkat oleh Yesus dalam Injil hari ini berkaitan dengan para Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang “dituakan” dalam kehidupan beragama. Sehingga apa yang mereka katakana dan ajarkan harus selalu diikuti oleh segenap umat.

            Namun, hari ini Yesus memberikan sebuah peringatan yang sangat keras, bahwa kita boleh mendengarkan ajaran mereka tetapi tidak boleh mengikuti perbuatan yang mereka lakukan. Tentu saja di sini perbuatan yang dimaksudkan adalah perbuatan-perbuatan negatif yang bertentangan dengan hukum Kristus sendiri. Bukti nyatanya adalah mereka mengajarkan kasih tetapi tidak mempraktikan kasih itu, mengajarkan solider terhadap sesama tetapi mereka sendiri tidak mau bersolider (membantu yang miskin, yang tidak mempunyai pakaian, makanan, kesakitan dan lain sebagainya). Kadang mereka melakukannya tetapi dengan tujuan hanya untuk dilihat oleh orang lain. Sekedar hanya untuk mencari kemegahan diri atau supaya dipuji oleh sesama bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat menaruh kasih kepada sesama.

 Hal inilah yang tidak disukai oleh Yesus. Yang lebih diinginkan oleh Yesus adalah disposisi hati kita yang positif, baik itu dalam perkataan maupun dalam tindakan. Karena seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus: Iman harus disertai dengan perbuatan. Hal di atas sudah terdapat dalam Kitab Suci terkhusus dalam diri Abraham (Yakobus 2:21-23) = “Bukankah Abraham bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Isakh anaknya di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”. Perlu diperhatikan benar-benar bahwa Kejadian 15:6 dikutib oleh Yakobus untuk menerangkan perlunya perbuatan, sedangkan ayat yang sama dipakai oleh Paulus untuk menekankan perlunya iman (Rm. 4:3). Keduanya benar karena masing-masing mau menekankan satu aspek lain. Dari sebab itu, Yakobus bisa berkata lebih lanjut. “Apa gunanya saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yak 2:14).

Memang imanlah yang pertama-tama menyelamatkan manusia, tetapi diandaikan juga bahwa iman itu segera dihayati dalam perbuatan-perbuatan baik. Yesus sendiri sering menjanjikan banyak ganjaran di surga atas perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Itu berarti bahwa keselamatan manusia adalah anugerah gratis dari Allah berkat iman, tetapi juga sekaligus suatu tugas.

Selanjutnya sabda Yesus bahwa barang siapa yang terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, mau menyadarkan kita bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah Tuhan dan Tuhan bisa mengambilnya kapan saja Ia kehendaki apa yang kita miliki, Oleh karena itu, janganlah kita bermegah-megah akan kedudukan, pekerjaan hebat yang kita miliki, jabatan dan lain-lain. Karena pada akhirnya, semuanya itu tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah.

MARIA: RATU PARA SAKSI IMAN Sarasehan 100 Tahun Penampakan IV 1917 – 19 AGUSTUS – 2017. Oleh Rm. Stef. Buyung Florianus, O.Carm.

Posted on Posted in Sarasehan Peringatan 100 Tahun Penampakan Fatima

Pengantar

Kita berada dalam rangkaian perayaan syukur 100 tahun Penampakan Maria di Fatima. Dan pada tanggal 19 Agustus 2017 ini kita mengenangkan tepat 100 tahun penampakan IV di Fatima. Sangat menarik untuk direnungkan berkaitan dengan tema bulan ini yakni Maria, Ratu Para Saksi Iman: Pahlawan-Pahlawan Iman dalam perjalanan sejarah Gereja. Sekaligus pada kesempatan ini kita diberi kesempatan untuk mengenakan Skapulir sebagai sebuah tanda dan saksi dalam perjalanan iman kekristenan kita.

Pesan Fatima

Dalam penampakan kedua pada musim panas 1916, malaikat yang menyatakan diri sebagai “Malaikat Portugal” meminta kepada Lusia, Fransiskus dan Yasinta, demikian: “Di atas segalanya, terimalah dengan rendah hati, semua penderitaan yang dikirimkan Tuhan kepadamu”. Lalu Maria, dalam penampakan I, 13 Mei 1917, bertanya kepada ketiga anak itu: “Apakah kalian mau mempersembahkan dirimu kepada Allah dan menanggung semua penderitaan yang dikirimkan-Nya kepadamu, demi pemulihan dosa-dosa yang melukai hati-Nya dan demi pertobatan orang-orang berdosa?”. Anak-anak itu menyatakan kesanggungpan mereka. Lalu Maria menegaskan,“Jika demikian, kalian akan sangat menderita, tetapi rahmat Allah akan selalu menghiburmu.”

Tiga anak itu akan menjadi saksi iman yang luar biasa, dengan berani menanggung segala derita dan kesulitan yang mereka alami, termasuk sakit dan penyakit bagi Fransiskus dan Yasinta. Dan dalam penampakan ketiga, 13 Juli 1917, Bunda Maria berkata: “Jika permintaan-permintaanku diperhatikan, Rusia akan dipertobatkan dan mereka akan memiliki damai. Jika tidak, Rusia akan menyebarkan kesesatan ke seluruh dunia, memancing perang dan penganiayaan terhadap Gereja. Umat beriman akan menderita dan menjadi martir, Paus akan sangat menderita dan sejumlah negara akan lenyap.” Kata-kata Bunda Maria ini akan terpenuhi dengan adanya banyak para saksi iman dalam abad 20, antara lain:  Santo Maximilianus Maria Kolbe, Santa Teresa Benedikta dari Salib (Edith Stein), Beato Titus Brandsma, Beato Isidorus Bakanja.

Santo Maximilianus Maria Kolbe  (1894-1941)

Santo Maximilianus Maria Kolbe adalah Rasul Maria, seorang devosan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. Kebaikan hatinya, mengorbankan diri seutuhnya, bahkan bagi musuh-musuh dan para algojo membuatnya mendapatkan kembali hidup yang baru. Henry Sienkiewcz, teman tahanan di Auschwitz mengatakan, “Rm. Kolbe ingin mempertobatkan seluruh kamp, termasuk para Nazi. Dia tidak hanya mendoakan mereka, tetapi juga mendorong kami supaya berdoa untuk pertobatan mereka.” Max. Kolbe sendiri berkata, “Saya dapat melakukan semuanya melalui Dia yang menguatkan saya dan melalui Bunda-Nya.” Dan lagi, “Orang hanya dapat belajar sungguh-sungguh untuk mengasihi sesama melalui penderitaan. Melalui penderitaan dan siksaan, kita tidak hanya disucikan, tetapi kita juga membawa si penyiksa kita kepada Tuhan.” Pestanya Dirayakan setiap 14 Agustus.

Santa Teresia Benedikta dari Salib (Edith Stein – 1891-1942)

Santa Teresia Benedikta dari Salib adalag seorang Yahudi Jerman, filsuf yang kemudian bertobat menjadi seorang Katolik, bahkan menjadi seorang Suster Karmel. Pada tanggal 2 Agustus 1942, bersama saudarinya Rosa Stein, dia ditangkap di biara Karmel Echt, Belanda. Dia pun berkata, “Marilah, mari kita pergi untuk bangsa kita.” Edith Stein menulis banyak hal, secara khusus mengenai spiritualitas, antara lain “Ilmu Pengetahuan Salib”, sebuah hasil studi mengenai Santo Yohanes dari Salib. Buku itu dikatakan belum selesai, tetapi ia mahkotai dengan kemartirannya sendiri.

Kesimpulan indah diberikan oleh Edith Stein, tentang salib: “Ave Crux, Spes Unica”, Salam Salib Harapan Satu-Satunya. Salah satu permenungan yang menarik adalah tentang Maria di bawah salib. Baginya, Maria yang tetap berdiri mengungkapkan keperkasaan seorang wanita, dan kekuatan seorang ibu.

Beato Titus Brandsma (1881-1942)

Ia adalah seorang imam Karmelit Belanda yang berani menentang paham Nazi yang bertentangan dengan iman Kristiani. Ditangkap 19 Januari 1942, selanjutnya hidup dari satu penjara ke penjara lain, dan akhirnya meninggal di kamp konsentrasi Dachau di Jerman, pada 26 Juli 1942. Kira-kira 2.720 rohaniwan yang ditahan di barak tersebut dan 95% adalah Katolik. Selama hidupnya, ia mempunyai cinta dan devosi kepada Bunda Maria. Kita dipanggil untuk menjadi theotokos-theotokos, pembawa-pembawa Allah, menghadirkan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika berada di penjara Scheveningen, ia pernah berkata, “Meskipun sendiri namun aku tidak merasa takut. (Sebab Engkau besertaku). O Tuhan, belum pernah aku begitu dekat dengan-Mu. Dalam kedamaian yang indah ini, kutemukan diri-Mu.” Ketika hari terakhir kehidupannya, ia disuntik dengan obat yang mematikan, ia memberikan rosarionya kepada perawat yang menyuntiknya. Perawat itu memberitahukan bahwa ia tidak bisa berdoa. Titus pun berpesan, “Jikalau engkau tidak bisa berdoa, cukup katakan, ‘Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami orang berdosa ini.” Pada akhir perang, perawat itu akhirnya bertobat dan memberi kesaksian tentang Titus Brandsma. Peringatannya Dirayakan pada 27 Juli.

Beato Isidorus Bakanja (1887-1909)

Ia seorang Katekis awam berasal dari Kongo yang menjadi daerah koloni Belgia. Ia dengan tekun dan setia mengenakan rosario dan skapulir. Baginya itulah tanda nyata sebagai orang Katolik. Pada suatau kesempatan seorang kulit putih yang tidak beriman, meminta untuk melepaskannya, tetapi ia menolak. Karena penolakannya itu, ia kemudian dianiaya, dipukuli hingga menyebabkan luka yang mengerikan pada punggungnya. Ia akhirnya meninggal akibat luka tersebut. Kesaksian imannya yang mengagumkan terdapat dalam kata-katanya sebagai berikut: “Katakan kepada mereka, saya mati karena saya adalah seorang Kristen”. Para misionaris memintanya untuk memaafkan orang yang telah menganiayanya. Dia menegaskan bahwa ia sudah memaafkannya, kemudian ia menambahkan, “Ketika saya di surga, saya akan banyak berdoa baginya.” Peringatannya dirayakan setiap tanggal 12 Agustus untuk kalender karmel dan 15 Agustus untuk umum.

Skapulir – Saksi Iman

Skapulis menjadi tanda bahwa kita orang-orang Katolik dan sekaligus putra dan putri Bunda Maria. Skapulir menjadi sarana bagi kita untuk memberi kesaksian iman. Setia mengenakan skapulir berarti setia sebagai orang beriman.

Arti Skapulir

Skapulir berasal dari kata bahasa Latin scapula,-ae yang artinya adalah pundah, bahu. Kita mengenakannya pada bahu kita. Sebagai murid Kristus, kita diundang untuk memanggul salib kita. Yang berarti harus selalu tekun dan setia. Skapulir juga berarti bahwa setiap murid Kristus harus meninggalkan dosa. Hal ini nyata dari makna kegunaan skapulir pada zaman para rahib dimana dipakai untuk melindungi jubah putih. Skapulir mengingatkan kita untuk tidak mengotori rahmat baptis yang telah kita terima. Kita harus selalu bersikap suci dan murni. Skapulir adalah simbol penyerahan diri seutuhnya, segalanya bagi Maria, dan juga membiarkan diri berada dalam  perlindungan Bunda Maria.

 

 

 

Renungan Sabtu, 12 Agustus 2017

Posted on Posted in Uncategorized

Renungan Sabtu, 12 Agustus 2017

Minggu Biasa XVIII, Matius 17:14-20

Iman yang memberi hidup

            Sebagai seorang yang beriman Katolik, ada satu pertanyaan yang harus selalu kita renungkan dalam perjalanan kerohanian kita. Pertanyaan tersebut yakni sudah seberapa besarkah iman kita kepada Yesus yang kita yakni sebagai satu-satunya sumber dan tujuan hidup kita? Problem yang seringkali melanda kehidupan kita sebagai seorang pengikut Yesus adalah kurangnya iman yang teguh kepada Yesus. Hal ini sangat berdampak ketika kita mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dalam hidup ini, kita seringkali cepat putus asa dan merasa diri bahwa kita adalah orang yang sangat tidak beruntung bahkan tidak berarti apa-apa. Dampak yang terjadi bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga untuk sesama. Hubungan dengan sesama menjadi kurang harmonis. Di sinilah, setiap pengikut Yesus perlu memperbaharui imannya, dalam seluruh situasi kehidupan ini.

            Kisah Yesus menyembuhkan seorang pemuda yang sakit ayan hari ini, selain mau menunjukkan kuasa kasih Yesus kepada orang yang menderita, tetapi juga mau menujukkan bagaiman kita harus beriman secara benar kepada Allah. Dalam kaitan dengan iman, ada dua hal yang dapat kita petik dari pesan injil hari ini. Pertama, bahwa iman yang kita hayati secara benar dapat membantu diri sendiri dan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan sangat jelas oleh sang ayah dari anak muda yang sakit ayan tersebut. Melalui kepercayaan sanga ayah akan kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan, maka ia datang kepada Yesus dan meminta Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Bayangkan saja seandainya sang ayah tidak menaruh kepercayaan kepada Yesus, pastilah ia tidak mau menyibukkan diri untuk mengantarkan anaknya kepada Yesus. Bahkan ia datang sambil menyembah di hadapan Yesus. Sebuah gambaran kerendahan hati dan kepercayaan total pada kehendak Yesus sendiri. Hasilnya sangat mengagumkan anaknya memperoleh kesembuhan. Sekali lagi iman kita yang kuat kepada Yesus dapat membantu sesama kita yang tidak berdaya. Iman yang kuat dapat memapukan kita untuk tetap hidup.

            Gambaran iman yang menyelamatkan sesama ini juga dapat ditemukan dalam diri para kudus, misalnya dalam diri Santa Theresia Lisieux, seorang suster Karmel dari Lisieux-Prancis. Imannya yang kuat kepada Yesus telah menyelamatkan seorang penjahat (Pranzini) untuk bertobat dan kembali memeluk imannya kepada Yesus. Dengan sangat indah hal ini ditunjukkan ketika di akhir hidupnya, pada saat akan menjalani hukuman mati, Pranzini meraih sebuah salib yang dipegang oleh seorang pastor di sampingnya dan menciumnya. Semua ini terjadi karena Theresia telah berdoa baginya siang dan malam demi pertobatannya. Theresia yakin bahwa doanya akan mengubah hidup Pranzini bahkan pada saat-saat hidupnya sekalipun. Dan hal itu sungguh terjadi. Pranzini bertobat. Misi Theresia untuk menyelamatkan jiwa-jiwa terlaksana dengan baik, meskipun harus melalui usaha yang sangat panjang.

            Kedua, berdasarkan kisah Injil hari ini, sebenarnya Yesus menujukkan salah satu jalan yang amat penting bagi perkembangan iman kita. Jalan tersebut adalah dengan terus menerus berhubungan dengannya dalam doa dan kurban. Dalam Injil, terlihat jelas salah satu pernyataan Yesus kepada para murid: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (ayat 21). Kalau dilihat dalam arti yang lurus, dapat dikatakan bahwa para murid belum memiliki kehidupan doa yang mendalam dan iman yang masih dangkal, karena mereka belum bisa atau belum berani untuk mengusir setan yang ada dalam diri sang pemuda yang sakit. Inilah kiranya hal yang juga seringkali dialami oleh kita manusia zaman ini yakni kurang bertumbuh dalam iman, terutama dalam hal berdoa dan berkurban. Hasil akhirnya kita mudah jatuh ketika masalah datang dalam kehidupan kita.

            Beato Isidorus Bakanja, seorang martir Karmel dari Kongo-Afrika, yang oleh para Karmelit diperingati perayaannya hari ini merupkan contoh seorang pendoa dan pembela iman yang teguh. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah pesan kepada Dorphius pada saat-saat akhir hidupnya ketika ia menderita siksaan fisik karena imannya akan Kristus, “Bila anda bertemu ibu saya, atau jika anda haru ke pengadilan, atau jika anda bertemu dengan seorang imam, katakanlah kepada mereka; saya disiksa karena saya seorang Kristen. Jika saya mati, saya akan berdoa bagi para penyiksa saya.” Inilah sebuah sikap dan pernyataan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman teguh kepada Yesus. Sudahkah kita memiliki iman seperti ini, bahkan hanya sebesar biji sesawi?